Rabu, 30 September 2026

Panca Wali Krama Ulun Danu Batur: Ketika Upacara Mengingatkan Bali untuk Menjaga Air dan Alam

Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur Bangli
Ilustrasi Puncak Karya Panca Wali Krama di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli.

BANGLI — Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Karya yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali ini bukan hanya menjadi momentum persembahyangan umat, tetapi juga mengingatkan kembali hubungan erat antara kehidupan masyarakat Bali, sumber air, hutan, dan kelestarian alam.

Gubernur Bali Wayan Koster hadir dalam puncak karya tersebut bersama Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Koster, pelaksanaan karya di kawasan Ulun Danu Batur memiliki makna yang berkaitan dengan upaya menjaga alam Bali. Pesan tersebut terutama terlihat melalui pelaksanaan Danu Kerthi dan Wana Kerthi yang menjadi bagian dari rangkaian karya.

Ulun Danu Batur dan Pentingnya Air bagi Bali

Makna tersebut memiliki konteks yang kuat karena Pura Ulun Danu Batur berada di kawasan Danau Batur, salah satu sumber penting dalam sistem kehidupan air di Bali.

UNESCO mencatat Pura Ulun Danu Batur sebagai salah satu bagian dari Lanskap Budaya Provinsi Bali yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia. Dalam sistem tersebut, pura ini disebut sebagai Supreme Water Temple, sementara Danau Batur dipandang sebagai sumber utama bagi mata air dan sungai yang menopang sistem subak di Bali.

Karena itu, hubungan antara pura, danau, pertanian, dan kehidupan masyarakat tidak berdiri sendiri. Pengelolaan air di Bali secara tradisional terhubung dengan sistem subak yang mempertemukan aspek pertanian, sosial, budaya dan keagamaan.

Dalam konteks inilah Danu Kerthi dapat dipahami bukan sekadar sebagai bagian dari upacara, tetapi sebagai pengingat mengenai pentingnya menghormati dan menjaga sumber air sebagai penopang kehidupan.

Rangkaian Karya Berlangsung Hampir Dua Bulan

Panca Wali Krama di Ulun Danu Batur tidak berlangsung hanya pada hari puncak. Berdasarkan informasi panitia dan Pemerintah Provinsi Bali, rangkaian karya dimulai pada 12 Agustus 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 7 Oktober 2026.

Sejumlah prosesi dilaksanakan secara bertahap mengikuti wariga dan dresta Bali. Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September. Tahapan inti berupa Tawur Manca Wali Krama dilaksanakan di Genah Peyadnyan pada 21 September.

Pada hari puncak, 26 September, umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan hingga Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian belum langsung berakhir. Subakti Penganyar dilaksanakan secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober 2026.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi dalam Pesan Menjaga Alam

Danu Kerthi dan Wana Kerthi merupakan bagian dari nilai Sad Kerthi yang juga menjadi landasan dalam visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Dalam penjelasan Pemerintah Provinsi Bali, Sad Kerthi mencakup enam nilai, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi dan Jagat Kerthi. Danu Kerthi berkaitan dengan penyucian dan pemuliaan danau, mata air, sungai dan sumber air, sedangkan Wana Kerthi berkaitan dengan pemuliaan tumbuh-tumbuhan dan kawasan hutan.

Artinya, pesan menjaga alam dalam rangkaian karya ini tidak berhenti pada lingkungan sekitar pura. Air dan hutan diposisikan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi Bali yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan air. Sawah, subak, permukiman, kegiatan ekonomi hingga berbagai aktivitas sosial dan keagamaan membutuhkan ketersediaan air yang terjaga.

Gubernur Bali Wayan Koster pada Puncak Panca Wali Krama Ulun Danu Batur
Gubernur Bali mengikuti persembahyangan pada Puncak Karya Panca Wali Krama
di Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9/2026). (Sumber : Pemprov Bali)

Upacara dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

Panca Wali Krama di Ulun Danu Batur memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan Bali dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali hubungan manusia dengan alam.

Upacara tentu memiliki tata pelaksanaan dan makna keagamaan tersendiri. Namun, dalam konteks kehidupan masyarakat Bali, nilai yang menyertainya juga dapat menjadi pengingat untuk menjaga sumber kehidupan secara nyata.

Menjaga danau berarti menjaga air. Menjaga hutan berarti menjaga bagian dari siklus kehidupan yang menopang sumber air. Dan menjaga keduanya pada akhirnya berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Karena itu, pesan yang muncul dari Panca Wali Krama tidak hanya berhenti pada selesainya prosesi pada 26 September. Rangkaian hingga 7 Oktober menjadi bagian dari perjalanan tradisi, sementara nilai yang dibawanya dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga Bali Tidak Cukup Hanya dengan Membangun

Pura Ulun Danu Batur menjadi contoh bagaimana tempat suci, sumber air dan kehidupan masyarakat Bali memiliki hubungan yang panjang.

UNESCO menempatkan Pura Ulun Danu Batur bersama elemen lain dalam Lanskap Budaya Bali karena adanya keterkaitan antara sistem subak, pura air, bentang alam dan filosofi Tri Hita Karana. Dengan demikian, menjaga alam bukan sekadar persoalan lingkungan dalam pengertian modern, tetapi juga terkait dengan tata kehidupan dan kebudayaan Bali.

Puncak Panca Wali Krama tahun ini menjadi salah satu momentum untuk kembali melihat hubungan tersebut. Pembangunan Bali tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mengenai bagaimana sumber air, hutan, dan kawasan suci tetap terjaga.

Pada akhirnya, menjaga kesucian alam bukan hanya tentang mempertahankan sebuah kawasan agar tetap sakral. Lebih jauh, ia menyangkut bagaimana generasi hari ini memastikan sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Di Ulun Danu Batur, pesan itu menemukan ruang yang sangat jelas: ketika air dijaga, kehidupan ikut dijaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ekspor Sapi Bali ke Timor-Leste Dijajaki, Potensi 10.000 Ekor Masih Perlu Diverifikasi

Pertemuan Pemerintah Provinsi Bali dan delegasi Timor-Leste membahas peluang kerja sama di sektor peternakan. (dok:Pemprov Bali) DENPASAR, ...