Peringatan 100 Tahun Rarud Batur menjadi momentum mengenang letusan Gunung Batur 1926 sekaligus menelusuri kembali jejak Desa Adat Batur lama di kawasan Batur Let.
Rarud Batur dan Jejak Desa Lama
BANGLI — Desa Adat Batur memperingati 100 Tahun Rarud Batur (1926–2026) melalui rangkaian Paiketan Karya yang diawali dengan Upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur, Rabu (29/7/2026).
Upacara tersebut dilaksanakan di kawasan Purwa Mandala atau Batur Let, yang diyakini sebagai lokasi Desa Adat Batur lama beserta Pura Ulun Danu Batur sebelum letusan besar Gunung Batur pada tahun 1926.
Kawasan Batur Let berada di kaki Gunung Batur, meliputi area sekitar Pura Jati hingga jalur menuju Desa Songan A, dan menjadi bagian penting dari jejak sejarah serta perjalanan masyarakat Desa Adat Batur.
Peringatan 100 Tahun Rarud Batur bukan sekadar pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang salah satu peristiwa penting dalam perjalanan masyarakat Batur.
Rarud Batur merupakan sebutan bagi peristiwa letusan besar Gunung Batur pada tahun 1926 yang menghancurkan permukiman masyarakat Batur lama beserta kawasan suci Pura Ulun Danu Batur. Peristiwa tersebut menyebabkan masyarakat meninggalkan kampung halamannya atau rarud (mengungsi), menyelamatkan pratima serta pelinggih yang masih dapat diselamatkan, kemudian mengungsi ke Desa Bayung Gede.
Dari tempat pengungsian tersebut, masyarakat Batur kemudian membangun kembali permukiman dan pusat kegiatan adat di lokasi Desa Batur yang sekarang.
Batur Let, Titik Sejarah Desa Adat Batur
Upacara Melaspas tahun ini dilaksanakan di Purwa Mandala, kawasan yang oleh masyarakat Batur dikenal sebagai Batur Let atau Titik Nol Batur.
Kawasan tersebut diyakini sebagai pusat permukiman Desa Adat Batur lama sekaligus lokasi berdirinya Pura Ulun Danu Batur sebelum letusan Gunung Batur tahun 1926.
Penetapan Purwa Mandala sebagai titik sejarah tersebut merupakan hasil penelusuran yang dilakukan Desa Adat Batur selama bertahun-tahun melalui kajian berbagai dokumen, termasuk foto-foto peninggalan masa Hindia Belanda, yang dipadukan dengan pengetahuan adat serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Penelusuran tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memahami kembali jejak Desa Adat Batur sebelum masyarakat berpindah setelah letusan 1926. Karena itu, Batur Let tidak hanya dipandang sebagai sebuah kawasan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Batur.
Kedudukan Batur dalam Sejarah dan Budaya Bali
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali menyampaikan bahwa kawasan Batur memiliki kedudukan penting dalam sejarah, budaya, dan spiritualitas Bali.
Mengacu pada Sastra Batur Kalawasan, kawasan Batur dipandang sebagai salah satu sumber peradaban Bali yang perlu dijaga melalui pelestarian kawasan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta pengelolaan yang tetap memperhatikan kesucian, budaya, dan kelestarian alam.
Pandangan tersebut menempatkan jejak sejarah Batur tidak hanya sebagai bagian dari perjalanan masyarakat setempat, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki arti lebih luas bagi Bali.
Sejarah Pura Ulun Danu Batur Setelah Letusan 1926
Keberadaan Purwa Mandala juga mengingatkan masyarakat bahwa sejarah Pura Ulun Danu Batur tidak berhenti setelah letusan tahun 1926.
Setelah masa pengungsian, masyarakat Batur membangun kembali pusat desa beserta Pura Penataran Agung Ulun Danu Batur di lokasi yang sekarang.
Sementara itu, di kawasan sekitar Danau Batur masih terdapat beberapa pura yang memiliki keterkaitan sejarah dan fungsi keagamaan dengan Pura Ulun Danu Batur.
Kondisi inilah yang kerap menimbulkan anggapan seolah terdapat beberapa Pura Ulun Danu Batur. Padahal, masing-masing memiliki latar belakang sejarah dan fungsi yang berbeda dalam tradisi keagamaan masyarakat Batur.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sejarah Batur dan keberadaan kawasan sucinya tidak dapat dilepaskan dari perubahan yang terjadi setelah letusan Gunung Batur 1926.
Sejarah Batur Let Masih Terus Ditelusuri
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan keterangan tertulis yang secara rinci menjelaskan hubungan historis masing-masing pura maupun batas kawasan Batur Let dalam sumber-sumber yang dipublikasikan kepada masyarakat.
Sejumlah informasi tersebut masih banyak diwariskan melalui tradisi lisan dan pengetahuan para pengelingsir Desa Adat Batur.
Karena itu, penelusuran terhadap sejarah kawasan Purwa Mandala masih terus dilakukan sebagai upaya memperkaya pemahaman mengenai asal-usul Desa Adat Batur dan kawasan suci Batur.
Bagian ini menjadi penting karena tidak semua informasi mengenai sejarah Batur dapat langsung ditempatkan sebagai fakta tertulis yang telah terdokumentasi secara lengkap. Penelusuran melalui dokumen, pengetahuan adat, serta tradisi lisan menjadi bagian dari proses untuk memahami jejak sejarah tersebut secara lebih utuh.
100 Tahun Rarud Batur dan Batur Village Festival
Sebagai bagian dari peringatan 100 Tahun Rarud Batur, Desa Adat Batur juga menggelar Batur Village Festival pada 2–8 Agustus 2026.
Festival yang mengusung tema “Batur Matangi – Sebuah Kesadaran akan Kebangkitan” tersebut menjadi ruang untuk mengajak masyarakat memahami kembali perjalanan sejarah Batur melalui kegiatan budaya, edukasi, dan napak tilas.
Salah satu agenda utamanya adalah napak tilas pada 3 Agustus yang menelusuri kembali perjalanan masyarakat dari kawasan Purwa Mandala atau Batur Let menuju Desa Bayung Gede, sebagai tempat pengungsian setelah letusan Gunung Batur tahun 1926, sebelum akhirnya membangun kembali Desa Batur di lokasi yang sekarang.
Napak tilas tersebut menjadi salah satu cara untuk menghubungkan kembali jejak perjalanan masyarakat Batur pada masa lalu dengan kehidupan masyarakat Batur saat ini.
Dari Rarud Menuju Kebangkitan
Melalui rangkaian upacara, festival, dan napak tilas tersebut, peringatan 100 Tahun Rarud Batur tidak hanya menjadi momentum mengenang bencana letusan Gunung Batur pada tahun 1926, tetapi juga menjadi ajakan bagi masyarakat untuk memahami perjalanan panjang lahirnya kembali Desa Adat Batur.
Semangat “Batur Matangi” atau kebangkitan menjadi pengingat bahwa di balik peristiwa besar tersebut tersimpan kisah ketangguhan masyarakat dalam membangun kembali kehidupan, menjaga adat dan warisan spiritual, serta merawat jejak sejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Batur hingga kini.
Baca juga : Tumpek Krulut: Sejarah, Makna, dan Warisan Spiritualitas dalam Tradisi Hindu Bali




.jpeg)


















.jpeg)