Rabu, 19 Agustus 2026

C2C-CTF 2026 di Bali, 81 Peserta dari 13 Negara Adu Keahlian Keamanan Siber

Kompetisi keamanan siber internasional C2C-CTF 2026 di Bali
Pembukaan kompetisi keamanan siber internasional C2C-CTF 2026 di Bali yang mempertemukan peserta dari berbagai negara, Selasa (11/8/2026).

BADUNG – Kompetisi keamanan siber internasional Country-to-Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 resmi dibuka di Bali. Ajang yang mempertemukan talenta muda keamanan siber dari berbagai negara ini berlangsung pada 10–14 Agustus 2026.

Pembukaan kompetisi berlangsung di Padma Resort Bali, Legian, Badung, Selasa (11/8/2026), dan ditandai dengan pemukulan gong. Indonesia menjadi tuan rumah C2C-CTF 2026 melalui Universitas Indonesia (UI), dengan Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali.

C2C-CTF merupakan kompetisi keamanan siber yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menguji kemampuan dalam menyelesaikan tantangan keamanan digital. Selain berkompetisi, peserta juga mendapat kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan membangun kerja sama internasional di bidang keamanan siber.

Pada penyelenggaraan 2026, kompetisi diikuti 81 peserta dari 13 negara, yaitu Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Talenta Siber dari Berbagai Negara

Peserta C2C-CTF 2026 berasal dari sejumlah perguruan tinggi di berbagai negara. Beberapa di antaranya adalah University of Cambridge, Keio University Jepang, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University Australia, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.

Kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bekerja dalam tim internasional dan menghadapi berbagai tantangan keamanan siber. Laman resmi C2C-CTF menjelaskan bahwa babak final di Bali menggunakan format kompetisi tim dengan peserta yang ditempatkan dalam kelompok beranggotakan lima orang.

Dari Kompetisi Menjadi Kolaborasi

C2C-CTF 2026 berada di bawah naungan International Cyber Security – Center of Excellence (INCS-CoE). Program tersebut dikembangkan sebagai wadah kolaborasi internasional di bidang keamanan siber dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra lainnya.

Penyelenggaraan di Bali juga menjadi bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang dibangun melalui kerja sama hibah Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Program tersebut telah berjalan selama enam tahun dengan Universitas Indonesia sebagai pelaksana dan Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai mitra pemerintah.

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kegiatan seperti C2C-CTF penting untuk memperkuat kemampuan talenta siber Indonesia sekaligus memperluas kerja sama internasional. Tantangan keamanan digital yang semakin kompleks dan melintasi batas negara membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis serta pengalaman bekerja sama dengan talenta dari berbagai negara.

Pembukaan C2C-CTF 2026 ditandai pemukulan gong di Bali
Pembukaan C2C-CTF 2026 di Bali ditandai dengan pemukulan gong di Padma Resort Bali, Legian, Badung, Selasa (11/8/2026).

Bali Jadi Tuan Rumah Edisi 2026

Penyelenggaraan C2C-CTF 2026 di Bali juga menjadi bagian dari perjalanan kompetisi yang sebelumnya digelar di sejumlah institusi pendidikan tinggi dunia, termasuk Royal Holloway University of London, Keio University Jepang, Edith Cowan University Australia, dan Northeastern University di Boston.

Sebelum memasuki babak final di Bali, kompetisi telah melalui tahap kualifikasi secara daring pada Februari 2026. Fakultas Teknik Universitas Indonesia mencatat sebanyak 710 peserta mengikuti tahap kualifikasi dan 100 mahasiswa dengan skor tertinggi terpilih untuk melaju ke babak final.

Dengan mempertemukan peserta dari berbagai negara dan perguruan tinggi, C2C-CTF 2026 di Bali tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan teknis. Kompetisi ini juga menjadi ruang untuk membangun jejaring, berbagi pengetahuan, dan memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang terus berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...