Selasa, 15 September 2026

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan Bali dari masa ke masa
Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman.

Ketika mendengar kata Bali, yang terbayang biasanya adalah pura, upacara, banjar, subak, gamelan, tari, serta kehidupan masyarakat yang begitu lekat dengan adat dan agama.

Tetapi, pernahkah kita bertanya: apakah Bali memang sejak awal sudah seperti yang kita kenal sekarang?

Jawabannya tidak.

Bali yang dikenal hari ini merupakan hasil perjalanan yang sangat panjang. Jejaknya dapat ditelusuri dari kehidupan masyarakat prasejarah, tradisi penghormatan kepada leluhur, berkembangnya pengaruh Hindu dan Buddha, munculnya kerajaan-kerajaan Bali Kuno, hubungan dengan Jawa, perdagangan dengan Tiongkok, perubahan politik setelah ekspansi Majapahit, hingga perkembangan kehidupan keagamaan pada masa Gelgel.

Yang menarik, pengaruh baru tidak selalu menghapus yang lama.

Sebagian tradisi dan bentuk budaya yang lebih tua justru mengalami penyesuaian, memperoleh makna baru, kemudian hidup sebagai bagian dari kebudayaan Bali.

Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar siapa yang membawa Hindu ke Bali?

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

Bagaimana Bali menjadi Bali?

Untuk menjawabnya, kita harus kembali jauh sebelum istilah “Pulau Dewata” digunakan seperti sekarang.

Bali tidak lahir dalam satu zaman

Sejarah Bali tidak dimulai ketika sebuah kerajaan berdiri atau ketika seorang tokoh datang dari luar pulau.

Jauh sebelum munculnya prasasti dan kerajaan, manusia telah hidup di Bali dan meninggalkan berbagai jejak arkeologis.

Tinggalan prasejarah dan megalitik berupa sarkofagus, menhir, tahta batu, arca, serta berbagai struktur batu menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki kehidupan sosial dan sistem kepercayaan sendiri.

Yang menarik, sejumlah tinggalan megalitik kemudian tetap berada dalam lingkungan tempat suci dan bahkan diperlakukan sebagai benda sakral.

Hal ini penting untuk memahami sejarah Bali.

Ketika pengaruh Hindu dan Buddha berkembang, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh kepercayaan sebelumnya hilang. Bukti arkeologi justru menunjukkan adanya kesinambungan sekaligus perubahan.

Dengan kata lain, Bali tidak dibangun dari ruang kosong.

Ada kehidupan dan kebudayaan yang telah lebih dahulu berkembang sebelum munculnya kerajaan-kerajaan yang meninggalkan catatan tertulis.

Pejeng dan jejak masa yang jauh lebih tua

Salah satu kawasan penting untuk melihat panjangnya perjalanan tersebut adalah Pejeng, Gianyar.

Di Pura Penataran Sasih terdapat Nekara Pejeng, benda perunggu dari masa perundagian yang menjadi salah satu tinggalan prasejarah paling penting di Bali. Nekara Pejeng juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.

Nekara merupakan bagian dari kebudayaan perunggu masa prasejarah. Tradisi nekara di Asia Tenggara berkaitan dengan perkembangan teknologi logam pada masa perundagian, jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Bali Kuno.

Karena itu, benda yang kini berada di lingkungan pura tersebut tidak dapat dibaca hanya dari fungsi keagamaannya sekarang.

Ia juga merupakan pengingat bahwa kehidupan manusia di Bali memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada masa kerajaan.

Pura tempat sebuah benda disakralkan dapat terus berkembang dan berubah, sementara benda yang diwariskan di dalamnya berasal dari zaman yang jauh lebih tua.

Di sinilah salah satu kunci memahami Bali:

sebuah benda dapat berubah fungsi dan makna tanpa harus kehilangan jejak sejarahnya.

Dari masa tanpa tulisan menuju Bali yang mulai meninggalkan catatan

Persoalan dalam mempelajari masa awal Bali adalah keterbatasan sumber tertulis.

Tidak ada catatan sejarah lengkap yang menceritakan kehidupan masyarakat Bali dari tahun ke tahun sejak masa prasejarah.

Karena itu, peneliti harus menggabungkan berbagai bukti: arkeologi, artefak, struktur bangunan, prasasti, bahasa, aksara, serta sumber-sumber tradisional.

Salah satu tonggak penting adalah Prasasti Sukawana AI, yang bertahun 882 Masehi dan selama ini dikenal sebagai salah satu, bahkan disebut dalam sumber pelestarian sebagai prasasti tertua di Bali. Prasasti tersebut antara lain memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat dan pertanian pada masa Bali Kuno.

Dari sumber-sumber seperti ini, kita mulai melihat bahwa masyarakat Bali pada abad ke-9 bukanlah masyarakat yang sederhana.

Sudah ada kehidupan pertanian, pengaturan air, kelompok masyarakat, kehidupan keagamaan, dan struktur sosial yang cukup kompleks.

Bali mulai meninggalkan jejak tertulis.

Dan sejak saat itu, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk mendengar suara masyarakat masa lalu melalui prasasti.

Blanjong: ketika Bali mulai terdengar melalui nama raja

Jejak penting berikutnya membawa kita ke Blanjong, Sanur.

Di kawasan ini ditemukan Prasasti Blanjong, yang menjadi salah satu sumber primer penting untuk sejarah Bali Kuno.

Prasasti tersebut bertahun Saka 835, yang dalam sejumlah sumber dibaca sebagai 913 Masehi, dan menyebut nama Sri Kesari Warmadewa. Prasasti itu menggunakan aksara dan bahasa yang menunjukkan adanya hubungan budaya yang luas pada masa tersebut.

Prasasti lain yang berkaitan dengan Sri Kesari ditemukan di Malet Gede, Panempahan dan Pukuh.

Prasasti Pukuh juga bertahun Saka 835 dan mencatat kemenangan Sri Kesari atas musuh serta upaya mempersatukan wilayah tertentu di bawah kekuasaannya.

Dari sini, sejarah Bali menjadi lebih terang.

Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan benda-benda arkeologis tanpa tulisan, tetapi mulai menemukan nama penguasa, wilayah, konflik, dan struktur kekuasaan.

Bali telah memasuki fase sejarah yang meninggalkan catatan tertulis.

Bali Kuno: kerajaan, agama, pertanian, dan perdagangan

Sumber-sumber prasasti menunjukkan bahwa pada masa Bali Kuno telah muncul kerajaan dengan pergantian penguasa yang berlangsung selama berabad-abad.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali mencatat sedikitnya 21 raja yang dapat diketahui melalui rangkaian prasasti Bali Kuno. Daftar tersebut mencakup Sri Kesari Warmadewa, Ugrasena, Tabanendra, Udayana, Anak Wungsu, Jayasakti, Jayapangus hingga Astasura Ratna Bumi Banten.

Kehidupan masyarakat pada masa itu juga telah berkembang jauh.

Prasasti Sukawana AI pada 882 Masehi menyebut huma, yang berarti sawah. Prasasti Bebetin AI pada 896 Masehi memberikan petunjuk mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan pengelolaan air, termasuk undagi pengarung, pembuat terowongan air atau aungan. Sementara istilah kasuwakan, yang kemudian berkembang menjadi istilah subak, ditemukan dalam prasasti abad ke-11.

Artinya, ketika kita berbicara tentang Bali Kuno, kita tidak hanya berbicara mengenai raja dan pura.

Kita juga berbicara mengenai petani, air, sawah, desa, perdagangan, dan sistem kehidupan masyarakat.

Bali mulai memperlihatkan sebuah masyarakat yang terorganisasi.

Hindu dan Buddha berkembang melalui proses, bukan pergantian mendadak

Ini bagian yang sering disederhanakan ketika sejarah Bali diceritakan.

Kita sering mendengar bahwa Hindu datang ke Bali, lalu masyarakat Bali berubah menjadi Hindu.

Bukti sejarah menunjukkan proses yang lebih rumit.

Prasasti dan tinggalan arkeologis memperlihatkan keberadaan berbagai tradisi keagamaan. Di Pura Kehen, misalnya, prasasti awal yang diperkirakan berasal dari rentang 882–914 Masehi menyebut nama-nama bhiksu. Prasasti berikutnya, yang diperkirakan berasal dari 1016–1049 Masehi, menyebut Senapati Kuturan dan pejabat kerajaan.

Sumber-sumber mengenai Bali Kuno juga menunjukkan keberadaan berbagai sekte atau aliran keagamaan.

Karena itu, perkembangan keagamaan di Bali lebih tepat dipahami sebagai proses pertemuan, penyesuaian, dan perkembangan, bukan pergantian mendadak dari satu sistem kepercayaan ke sistem lainnya.

Rsi Markandeya: antara tradisi dan bukti sejarah

Nama Rsi Markandeya memiliki tempat penting dalam tradisi sejarah dan keagamaan Bali.

Tradisi yang berkembang menghubungkannya dengan perjalanan dari Jawa menuju Bali dan kawasan Besakih.

Namun, di sinilah kita harus membedakan antara tradisi sejarah dan bukti sejarah tertulis yang dapat diberi tanggal.

Kisah mengenai Rsi Markandeya terutama diwariskan melalui sumber-sumber tradisional. Bahkan sumber pelestarian kebudayaan yang membahas perkembangan pertanian Bali menyebut kisah kedatangan Rsi Markandeya dari Gunung Raung sebagai bagian dari tradisi sastra seperti Purana Markandeya dan Kawit Babad Agama Hindu Wenten Ring Bali.

Karena itu, kisah Rsi Markandeya tetap penting sebagai bagian dari ingatan budaya Bali, tetapi detail kronologis perjalanan tersebut tidak dapat disamakan tingkat kepastiannya dengan prasasti yang memiliki angka tahun.

Ini bukan berarti tradisinya harus ditolak.

Justru dengan membedakan keduanya, kita dapat menghargai tradisi tanpa mengubahnya menjadi fakta sejarah yang belum terbukti.

Pura Besakih sebagai salah satu jejak sejarah dan budaya Bali
Pura Besakih menjadi salah satu warisan penting yang merekam perjalanan panjang sejarah dan perkembangan kehidupan keagamaan di Bali. (Ilustrasi)

Besakih: tradisi, prasasti, dan perjalanan panjang

Pura Besakih menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana sejarah Bali perlu dibaca melalui berbagai lapisan sumber.

Tradisi menghubungkan kawasan Besakih dengan Rsi Markandeya dan kisah penanaman Panca Datu.

Namun, bukti tertulis yang dapat diberi tanggal menunjukkan keberadaan dan pentingnya kawasan Besakih pada masa yang lebih kemudian.

Prasasti Penataran Besakih A bertahun Saka 1366 atau 1444 Masehi, sedangkan Prasasti Penataran Besakih B bertahun Saka 1380 atau 1458 Masehi. Prasasti Gaduh Sakti Selat bertahun Saka 1393 atau 1471 Masehi juga menyebut kawasan Gunung Basukir.

Artinya, sejarah Besakih tidak dapat diringkas menjadi satu cerita tentang siapa yang pertama kali mendirikannya.

Kawasan suci tersebut memiliki perjalanan panjang.

Tradisi memberi kita ingatan.

Arkeologi memberikan benda dan struktur.

Prasasti memberikan petunjuk waktu.

Ketiganya perlu dibaca bersama, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.

Mpu Kuturan dan penataan kehidupan masyarakat

Memasuki sekitar abad ke-11, nama Mpu Kuturan menjadi penting dalam tradisi sejarah Bali.

Yang menarik, nama Kuturan juga muncul dalam sumber tertulis.

Prasasti Pura Kehen yang diperkirakan berasal dari rentang 1016–1049 Masehi menyebut Senapati Kuturan.

Sementara tradisi Bali menghubungkan Mpu Kuturan dengan penataan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, Mpu Kuturan sangat erat dikaitkan dengan konsep Kahyangan Tiga dan penataan kehidupan desa.

Pemerintah Provinsi Bali juga mencatat bahwa pengaruh Mpu Kuturan terhadap arsitektur dan tata ruang Bali berlangsung melalui proses adaptasi terhadap pola yang telah ada sebelumnya.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa perubahan kebudayaan tidak selalu berarti membuang sistem lama.

Sebuah sistem baru dapat justru menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebiasaan masyarakat yang sudah ada.

Dengan demikian, agama tidak hanya berkembang sebagai persoalan keyakinan.

Ia ikut membentuk cara masyarakat mengatur ruang, desa, pura, pertanian, dan hubungan sosial.

Pura Kehen: contoh bagaimana yang lama beradaptasi

Pura Kehen memberikan gambaran yang sangat menarik.

Prasasti-prasasti yang berkaitan dengan Pura Kehen menunjukkan keberadaannya sejak sekitar abad ke-9 atau awal abad ke-10 Masehi. Prasasti berikutnya berasal dari sekitar 1016–1049 Masehi dan prasasti lainnya bertahun 1204 Masehi.

Yang lebih menarik adalah struktur pura yang berteras-teras.

BPCB Bali melihat bentuk tersebut sebagai sesuatu yang mengingatkan pada struktur bangunan berundak dari tradisi megalitik.

Sumber yang sama juga melihat adanya kesinambungan dalam pemujaan terhadap kekuatan seperti Hyang Api, Hyang Tanda dan Hyang Karimana yang kemudian berkembang dalam kerangka keagamaan Hindu.

Di sini kita mendapatkan contoh nyata dari proses yang sejak awal menjadi pertanyaan tulisan ini:

pengaruh baru tidak selalu menghapus yang lama.

Kadang yang terjadi adalah perubahan bentuk dan makna.

Bali juga terhubung dengan dunia Tiongkok

Kalau sejarah Bali hanya dilihat dari hubungan dengan India dan Jawa, gambarnya belum lengkap.

Ada jaringan lain yang penting: hubungan dengan Tiongkok.

Hubungan tersebut tidak dapat begitu saja ditempatkan hanya pada masa Raja Jayapangus.

Temuan arkeologis dan penelitian mengenai benda-benda Tiongkok menunjukkan adanya hubungan yang lebih panjang melalui perdagangan.

Bahkan kajian mengenai hubungan masyarakat Tionghoa dan Bali mencatat temuan cermin perunggu dari masa Dinasti Han di Bali serta keramik Dinasti Tang di kawasan Blanjong, Sanur sebagai bagian dari bukti hubungan yang berlangsung jauh sebelum periode Majapahit.

Pada masa Bali Kuno, hubungan ekonomi tersebut juga terlihat melalui keberadaan uang kepeng.

Penelitian arkeologi mengenai uang kepeng Dinasti Song menunjukkan bahwa koin Tiongkok merupakan salah satu jenis temuan penting dalam kajian hubungan perdagangan dan jaringan ekonomi di Nusantara.

Dengan demikian, hubungan Bali dan Tiongkok sebaiknya tidak dipahami sebagai satu peristiwa.

Ia merupakan bagian dari jaringan perdagangan dan pertemuan manusia yang berlangsung dalam waktu panjang.

Uang kepeng sebagai jejak hubungan Bali dengan Tiongkok
Uang kepeng menjadi salah satu jejak hubungan Bali dengan jaringan perdagangan Tiongkok dan kemudian berkembang dalam berbagai praktik sosial dan budaya Bali. (Ilustrasi)

Dari uang menjadi bagian dari kebudayaan

Di Bali, uang kepeng kemudian dikenal sebagai pis bolong.

Yang menarik bukan hanya asal-usul bendanya, tetapi perubahan fungsi dan maknanya.

Benda yang pada awalnya berkaitan dengan aktivitas ekonomi kemudian dapat digunakan dalam berbagai konteks sosial, ritual, dan kebudayaan Bali.

Perubahan tersebut menunjukkan satu proses penting dalam akulturasi:

sebuah benda yang berasal dari luar dapat memperoleh makna baru ketika masuk ke dalam kebudayaan lokal.

Karena itu, ketika masyarakat Bali masih menggunakan pis bolong dalam berbagai keperluan upacara dan kebudayaan, yang terlihat bukan sekadar peninggalan sistem pembayaran lama.

Di sana terdapat sejarah pertemuan antara Bali dan dunia perdagangan Asia.

Jayapangus dan Kang Cing Wie: sejarah atau ingatan budaya?

Kisah Raja Jayapangus dan Kang Cing Wie menjadi salah satu cerita paling terkenal mengenai hubungan Bali dengan Tiongkok.

Jayapangus merupakan salah satu raja Bali Kuno yang keberadaannya dapat ditelusuri melalui prasasti. BPCB Bali menempatkannya dalam rentang Saka 1099–1103, atau sekitar 1177–1181 Masehi.

Namun, kisah mengenai pernikahannya dengan Kang Cing Wie terutama hidup dalam tradisi dan ingatan budaya Bali.

Dinas Kebudayaan Bali, misalnya, masih merekam kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie dalam berbagai karya seni seperti Tari Legong Raja Cina.

Karena itu, kisah tersebut menarik bukan semata-mata karena kita harus menentukan apakah setiap detailnya merupakan fakta sejarah.

Yang lebih penting adalah bagaimana kisah itu menunjukkan ingatan masyarakat Bali tentang pertemuan dengan kebudayaan Tiongkok.

Dan di sinilah kita perlu membedakan:

Hubungan Bali dengan Tiongkok sudah berlangsung melalui jaringan perdagangan.

Sementara kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie menjadi salah satu bentuk narasi budaya yang kemudian hidup sangat kuat dalam masyarakat Bali.

Jawa datang ke Bali yang sudah memiliki kebudayaan

Hubungan Bali dengan Jawa juga berlangsung panjang.

Pengaruh Jawa tidak hanya menyangkut agama, tetapi juga bahasa, sastra, pemerintahan, seni, politik, dan jaringan kekuasaan.

Salah satu perubahan politik terbesar terjadi pada 1343 Masehi, ketika ekspansi Majapahit mencapai Bali.

Pada saat itu Bali berada di bawah pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten, salah satu raja terakhir Bali Kuno yang namanya tercatat dalam sumber sejarah.

Setelah ekspansi tersebut, pengaruh Majapahit semakin kuat dalam kehidupan politik Bali.

Namun, satu hal harus digarisbawahi:

penaklukan politik tidak sama dengan menghapus kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya.

Bali sudah memiliki sejarah, sistem sosial, kehidupan keagamaan, bahasa, pertanian, dan tradisi selama berabad-abad.

Karena itu, pengaruh Jawa-Majapahit lebih tepat dilihat sebagai lapisan baru yang kemudian bertemu dengan kebudayaan lokal.

Dari Bali Kuno menuju Gelgel

Setelah periode Bali Kuno dan perubahan politik akibat ekspansi Majapahit, pusat kekuasaan Bali berkembang menuju Gelgel.

Pada periode inilah kehidupan politik, keagamaan, seni, sastra, dan kebudayaan Bali kembali mengalami perkembangan penting.

Salah satu tokoh yang kemudian sangat kuat dalam tradisi Bali adalah Danghyang Nirartha, yang dikenal pula sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh.

Sumber BPCB Bali yang membahas Pura Erjeruk menyebut bahwa berdasarkan lontar Pemargin Danghyang Nirartha di Bali, beliau datang ke Bali sekitar abad ke-16 Masehi, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel. Dalam tradisi tersebut, Nirartha kemudian diangkat sebagai Bhagawanta sekaligus penasihat raja.

Sekali lagi, sumbernya penting untuk dibaca sesuai jenisnya.

Kisah perjalanan Nirartha terutama diwariskan melalui lontar dan tradisi, sehingga tidak semua detailnya memiliki kedudukan yang sama dengan prasasti bertanggal.

Tetapi pengaruh Nirartha terhadap perkembangan kebudayaan dan kehidupan keagamaan Bali kemudian menjadi sangat kuat.

Padmasana dan perkembangan arsitektur keagamaan Bali

Salah satu perkembangan yang sering dikaitkan dengan masa Danghyang Nirartha adalah Padmasana.

Padmasana kemudian menjadi salah satu bentuk bangunan penting dalam arsitektur pura Bali.

Pemerintah Provinsi Bali menyebut bahwa kedatangan Danghyang Nirartha pada abad ke-16 membawa pengaruh terhadap perkembangan penggunaan Padmasana dan penataan fungsi tempat pemujaan.

Namun, kalimat “Nirartha menciptakan Padmasana” terlalu sederhana jika digunakan sebagai fakta sejarah yang pasti.

Lebih tepat dikatakan bahwa perkembangan konsep dan penggunaan Padmasana dalam arsitektur keagamaan Bali sangat erat dikaitkan dengan periode dan pengaruh Danghyang Nirartha.

Perbedaan kecil dalam kalimat ini penting.

Sebab sejarah bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang seberapa kuat bukti yang mendukungnya.

Jadi, apakah Bali kehilangan jati diri karena banyak pengaruh luar?

Justru sejarah Bali menunjukkan hal sebaliknya.

Semakin jauh kita menelusurinya, semakin jelas bahwa Bali tidak terbentuk dengan cara menutup diri dari dunia luar.

Bali berkali-kali mengalami pertemuan.

Dengan kebudayaan yang lebih tua.

Dengan tradisi Hindu dan Buddha.

Dengan Jawa.

Dengan jaringan perdagangan Tiongkok.

Dengan Majapahit.

Dengan berbagai perkembangan politik dan keagamaan pada masa berikutnya.

Tetapi setiap pertemuan tidak selalu menghasilkan peniruan.

Masyarakat lokal memilih, menyesuaikan, mengolah, dan memberi makna baru.

Itulah sebabnya pengaruh dari luar tidak otomatis membuat Bali kehilangan identitasnya.

Jadi, bagaimana Bali menjadi Bali?

Sekarang kita bisa kembali kepada pertanyaan awal.

Bagaimana Bali menjadi Bali?

Jawabannya ternyata tidak dapat diberikan hanya dengan satu nama.

Bukan hanya Rsi Markandeya.

Bukan hanya Mpu Kuturan.

Bukan hanya raja-raja Bali Kuno.

Bukan hanya Majapahit.

Bukan hanya Danghyang Nirartha.

Dan bukan pula hanya karena pengaruh India, Jawa, atau Tiongkok.

Bali menjadi Bali melalui proses panjang ketika masyarakat lokal bertemu dengan berbagai pengaruh, memilih, menyesuaikan, mengubah, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Dari tradisi leluhur hingga pura.

Dari kehidupan pertanian hingga sistem desa.

Dari prasasti hingga lontar.

Dari perdagangan hingga pis bolong.

Dari hubungan dengan Jawa hingga Majapahit.

Dari kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie hingga perkembangan Gelgel.

Dari perkembangan kehidupan keagamaan hingga Padmasana.

Semua lapisan itu tidak berdiri sendiri.

Mereka bertumpuk.

Saling memengaruhi.

Dan dalam perjalanan yang sangat panjang, membentuk sesuatu yang memiliki karakter khas.

Bali.

Bajra Sandhi: ketika perjalanan panjang itu divisualisasikan

Menariknya, perjalanan panjang tersebut juga dapat dilihat secara visual di Monumen Bajra Sandhi di Denpasar.

Monumen ini memiliki rangkaian 33 diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah masyarakat Bali dari masa prasejarah, Bali Kuno dan Bali Madya hingga perjuangan dan masa kemerdekaan. Sumber akademik mengenai Bajra Sandhi juga mencatat bahwa rangkaian diorama tersebut disusun secara berurutan untuk menggambarkan perjalanan sejarah Bali.

Diorama tentu bukan pengganti prasasti atau hasil penelitian arkeologi.

Namun, ia membantu masyarakat melihat bahwa sejarah Bali bukan satu cerita pendek.

Ada lapisan waktu yang sangat panjang.

Ada perubahan.

Ada pertemuan.

Ada konflik.

Ada penyesuaian.

Dan ada warisan yang terus diteruskan.

Sejarah Bali bukan tentang siapa yang paling berpengaruh

Mungkin ini bagian terpenting dari perjalanan kita.

Sejarah sering diceritakan seperti perlombaan untuk mencari siapa yang datang lebih dahulu atau siapa yang paling berpengaruh.

Tetapi sejarah Bali memperlihatkan sesuatu yang lebih menarik.

Sebuah kebudayaan tidak selalu terbentuk karena satu pihak menang dan pihak lain kalah.

Kadang sebuah kebudayaan justru lahir karena masyarakat mampu mengolah pertemuan.

Yang lama tidak seluruhnya dibuang.

Yang baru tidak seluruhnya ditelan.

Keduanya bertemu.

Kemudian lahirlah sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang akhirnya menjadi milik masyarakat setempat.

Mungkin karena itulah Bali memiliki wajah yang begitu khas.

Di satu sisi terdapat jejak kehidupan leluhur yang sangat tua.

Di sisi lain terdapat filsafat dan praktik keagamaan Hindu.

Ada jejak Buddha.

Ada pengaruh Jawa.

Ada hubungan dengan Tiongkok.

Ada warisan kerajaan.

Ada desa adat.

Ada banjar.

Ada subak.

Ada pura.

Ada seni.

Ada upacara.

Namun setelah semua lapisan tersebut hidup dan berkembang selama berabad-abad, kita tidak menyebutnya sebagai kumpulan budaya asing.

Kita menyebutnya:

Bali.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah jawaban paling sederhana sekaligus paling dalam dari pertanyaan:

Bagaimana Bali Menjadi Bali?

Bali menjadi Bali bukan karena tidak pernah menerima pengaruh dari luar.

Bali menjadi Bali karena berbagai pertemuan itu diolah menjadi kebudayaan yang kemudian dihidupi, dimaknai, dan diwariskan oleh masyarakat Bali.

Dan perjalanan itu belum selesai.

Sebab ketika berbagai lapisan kepercayaan, sejarah, seni, dan pengaruh budaya tersebut bertemu, lahirlah bentuk-bentuk kebudayaan yang jauh lebih menarik untuk dibedah.

Salah satunya adalah Barong dan Rangda.

Di sana pertanyaannya menjadi lebih tajam:

Apakah Barong dan Rangda benar-benar “asli Bali”, atau justru menjadi contoh bagaimana Bali kembali mengolah berbagai pengaruh menjadi sesuatu yang khas Bali?

Itulah cerita berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...