Jarak Bima Sakti dan Galaksi Andromeda sekitar 2,5 juta tahun cahaya. Namun wilayah terluar kedua galaksi ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat. Halo gas Andromeda bahkan telah diketahui membentang hingga sangat dekat dengan wilayah halo Bima Sakti. Sementara itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa apakah keduanya benar-benar akan bergabung di masa depan masih belum sepenuhnya pasti.
Selama bertahun-tahun, kita mengenal satu gambaran sederhana tentang masa depan galaksi kita: Bima Sakti akan bertabrakan dengan Galaksi Andromeda dalam beberapa miliar tahun mendatang.
Gambaran itu memang memiliki dasar ilmiah. Pengamatan Hubble sebelumnya menunjukkan bahwa gravitasi kedua galaksi dapat membawa mereka menuju pertemuan besar dan akhirnya bergabung.
Namun penelitian yang lebih baru membuat kisah tersebut menjadi jauh lebih menarik.
Pada 2025, sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Astronomy memperkirakan peluang Bima Sakti dan Andromeda bergabung dalam 10 miliar tahun ke depan hanya sedikit di atas 50 persen ketika pengaruh galaksi lain di sekitar keduanya turut diperhitungkan.
Kemudian, penelitian lain yang dipublikasikan sebagai preprint pada Maret 2026 menghasilkan angka yang jauh lebih tinggi, sekitar 90 persen dalam model utamanya. Penelitian itu juga memperkirakan waktu merger median sekitar 6,5 miliar tahun. Namun para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut sangat sensitif terhadap pengukuran gerak Andromeda dan masih membutuhkan pengukuran yang lebih presisi.
Artinya, cerita tentang masa depan Bima Sakti dan Andromeda ternyata belum selesai.
Dan sebelum membicarakan apakah keduanya benar-benar akan “bertabrakan”, ada satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu.
Jarak 2,5 juta tahun cahaya tidak berarti keduanya benar-benar terpisah dalam ruang kosong
Ketika mendengar bahwa Andromeda berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya, kita mungkin membayangkan dua galaksi sebagai dua pulau yang terpisah sangat jauh.
Padahal, galaksi tidak hanya terdiri dari bagian bercahaya yang terlihat melalui teleskop.
Di sekeliling galaksi terdapat wilayah yang jauh lebih luas yang disebut halo.
Halo gas Andromeda sangat besar dan sangat renggang sehingga hampir tidak terlihat secara langsung. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa halo gas tersebut membentang sekitar 1,3 juta tahun cahaya dari galaksi, dan pada beberapa arah dapat mencapai sekitar 2 juta tahun cahaya. NASA menyebut halo Andromeda sudah mencapai atau “bersinggungan” dengan halo Bima Sakti.
Inilah bagian yang sering hilang ketika kita membayangkan dua galaksi hanya sebagai dua piringan bercahaya.
Galaksi ternyata jauh lebih luas daripada apa yang tampak di langit.
Dengan demikian, jika yang dimaksud “bersinggungan” adalah wilayah halo yang sangat luas, interaksi antara lingkungan kedua galaksi dapat berlangsung jauh sebelum piringan galaksi yang dipenuhi bintang benar-benar bertemu.
Tetapi apakah bintang-bintang Bima Sakti dan Andromeda sudah bertabrakan?
Tidak.
Istilah “tabrakan galaksi” bisa menimbulkan gambaran yang keliru.
Bintang-bintang di dalam galaksi memang sangat banyak, tetapi jarak antar-bintang juga luar biasa besar. Karena itu, ketika dua galaksi berinteraksi, bukan berarti bintang-bintang dari kedua galaksi akan saling menghantam seperti mobil yang bertabrakan.
Yang jauh lebih penting adalah gravitasi.
Ketika dua galaksi saling mendekat, gravitasi masing-masing dapat mengubah lintasan bintang, gas dan struktur galaksi secara keseluruhan.
Piringan galaksi dapat berubah bentuk.
Lengan spiral dapat tertarik.
Awan gas dapat mengalami tekanan dan memicu pembentukan bintang.
Dalam jangka waktu yang sangat panjang, struktur kedua galaksi dapat berubah secara drastis.
Karena itu, istilah penggabungan galaksi atau galaxy merger sebenarnya lebih tepat untuk menggambarkan proses tersebut daripada membayangkan sebuah kecelakaan kosmis yang terjadi secara tiba-tiba.
Masa depan Bima Sakti ternyata tidak sesederhana yang dulu diperkirakan
Selama beberapa dekade, skenario merger Bima Sakti dan Andromeda dianggap hampir pasti.
Pengukuran Hubble terhadap gerak Andromeda pada masa lalu menunjukkan gerak menyamping yang sangat kecil. Dari data tersebut, astronom memperkirakan kedua galaksi akan saling mendekat dan akhirnya bergabung dalam beberapa miliar tahun.
Namun pengukuran yang lebih baru, termasuk data dari teleskop antariksa Gaia, membuat persoalan menjadi lebih rumit.
Pada 2025, penelitian yang diterbitkan di Nature Astronomy tidak hanya memperhitungkan Bima Sakti dan Andromeda sebagai dua benda.
Para peneliti juga memasukkan Galaksi Triangulum atau M33 dan Large Magellanic Cloud (LMC) ke dalam model.
Hasilnya menunjukkan bahwa kedua galaksi tersebut dapat memengaruhi orbit Bima Sakti dan Andromeda secara signifikan.
M33 cenderung meningkatkan peluang merger, sedangkan LMC justru dapat menguranginya. Dalam model empat galaksi tersebut, peluang Bima Sakti dan Andromeda bergabung dalam 10 miliar tahun diperkirakan hanya sedikit di atas 50 persen.
Dengan kata lain, merger ternyata tidak lagi bisa disebut sebagai sebuah kepastian.
Penelitian 2026 kembali menaikkan peluang merger
Perdebatan tersebut kemudian berlanjut.
Pada 24 Maret 2026, Hao Wu, Yang Huang, Huawei Zhang, Guangze Sun dan Shi Shao menerbitkan penelitian berjudul The Fate of the Milky Way–Andromeda System: To Merge or Not?
Dengan menggunakan pengukuran proper motion Andromeda berbasis Gaia yang diperbarui serta memasukkan pengaruh M33 dan LMC, penelitian tersebut menghasilkan peluang merger sekitar 90 persen dalam model utamanya.
Waktu merger median yang diperoleh adalah sekitar 6,5 miliar tahun.
Namun ada catatan penting.
Penelitian tersebut masih berstatus preprint, sehingga hasilnya belum seharusnya dianggap sebagai kata akhir mengenai nasib Bima Sakti dan Andromeda.
Yang lebih menarik, penelitian itu sendiri menunjukkan bahwa hasil perhitungannya sangat sensitif terhadap nilai gerak menyamping Andromeda. Dalam rentang ketidakpastian pengukuran, peluang merger yang dihitung dapat berubah secara signifikan. Para peneliti memperkirakan pengukuran gerak Andromeda yang jauh lebih presisi masih diperlukan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.
Jadi, angka 90 persen bukan berarti para astronom sekarang sudah memastikan Bima Sakti akan bertabrakan dengan Andromeda.
Begitu pula angka sekitar 50 persen dari penelitian 2025 bukan berarti merger kemungkinan besar tidak akan terjadi.
Keduanya justru menunjukkan betapa sulitnya memprediksi gerakan dua galaksi yang jaraknya mencapai jutaan tahun cahaya.
Mengapa gerakan Andromeda sangat sulit diukur?
Bayangkan seseorang mencoba menentukan arah gerakan sebuah benda yang berada jutaan tahun cahaya dari kita.
Kecepatan benda tersebut menuju kita memang dapat diukur relatif lebih mudah melalui perubahan spektrum cahayanya.
Namun gerakan menyampingnya jauh lebih sulit diketahui.
Padahal, perbedaan kecil dalam gerakan tersebut dapat menentukan apakah dua galaksi akan benar-benar bertemu atau hanya saling mendekat lalu kembali menjauh.
Itulah sebabnya data dari Gaia menjadi sangat penting.
Semakin baik astronom mengetahui posisi dan gerakan Andromeda, semakin baik pula mereka dapat menjalankan simulasi tentang masa depan kelompok galaksi di sekitar kita.
Masalahnya, perubahan yang harus diukur sangat kecil dibandingkan dengan jarak yang luar biasa besar.
Karena itu, sedikit perubahan pada hasil pengukuran dapat menghasilkan perbedaan besar dalam simulasi miliaran tahun ke depan.
Jika merger terjadi, galaksi tidak langsung “meledak”
Jika pada akhirnya Bima Sakti dan Andromeda memang bergabung, proses tersebut bukanlah peristiwa yang berlangsung dalam hitungan jam atau hari.
Prosesnya berlangsung dalam skala ratusan juta hingga miliaran tahun.
Gravitasi secara perlahan mengubah orbit kedua galaksi.
Piringan galaksi dapat terdistorsi.
Bintang-bintang dapat berpindah ke orbit baru.
Gas antarbintang dapat mengalami kompresi dan memicu pembentukan bintang baru.
Pada akhirnya, kedua sistem dapat kehilangan bentuk spiral yang sekarang kita kenal dan berkembang menjadi satu galaksi yang berbeda.
Simulasi NASA sebelumnya menggambarkan bahwa setelah proses merger selesai, Matahari kemungkinan akan berada pada orbit yang berbeda di dalam galaksi baru.
Jadi, “tabrakan galaksi” lebih tepat dibayangkan sebagai tarian gravitasi yang sangat panjang daripada sebuah benturan dahsyat dalam satu momen.
Bagaimana nasib Matahari dan Bumi?
Bagi manusia, bagian ini mungkin justru yang paling menarik.
Jika Bima Sakti dan Andromeda benar-benar bergabung miliaran tahun dari sekarang, kemungkinan Matahari bertabrakan langsung dengan sebuah bintang lain tetap sangat kecil.
Ruang di antara bintang-bintang terlalu luas.
Yang lebih mungkin adalah orbit Matahari berubah akibat gravitasi struktur galaksi yang sedang mengalami merger. NASA sebelumnya memperkirakan Matahari dapat terdorong ke orbit yang berbeda dalam galaksi hasil penggabungan tersebut.
Namun ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kita.
Bumi kemungkinan sudah tidak layak huni jauh sebelum merger galaksi tersebut selesai.
NASA memperkirakan sekitar 5 miliar tahun dari sekarang Matahari akan mulai kehabisan bahan bakar hidrogen di intinya dan memasuki tahap evolusi menuju bintang raksasa merah. Perubahan tersebut pada akhirnya akan membuat kondisi Bumi tidak lagi layak bagi kehidupan seperti yang kita kenal.
Artinya, ketika membicarakan masa depan Bima Sakti dan Andromeda, persoalan utamanya bukan hanya apakah manusia akan melihat peristiwa tersebut.
Pertanyaannya adalah apakah Bumi masih menjadi tempat yang memungkinkan kehidupan seperti sekarang pada saat itu.
Langit malam akan berubah, tetapi bukan dalam semalam
Jika kedua galaksi benar-benar menuju merger, perubahan langit malam akan berlangsung sangat lambat jika dilihat dari skala kehidupan manusia.
Andromeda akan tampak semakin besar dari waktu ke waktu.
Struktur kedua galaksi akan mengalami perubahan.
Lengan spiral dapat tertarik dan terdistorsi.
Wilayah pembentukan bintang dapat menjadi lebih aktif.
Namun semua itu berlangsung dalam rentang waktu yang jauh melampaui umur manusia.
NASA sebelumnya menggunakan simulasi untuk menggambarkan bagaimana bentuk Bima Sakti dan Andromeda dapat berubah selama proses interaksi tersebut.
Tidak akan ada satu malam ketika manusia bangun dan melihat dua galaksi tiba-tiba bertabrakan.
Perubahannya akan berlangsung perlahan, selama jutaan bahkan miliaran tahun.
Kita sebenarnya sedang melihat masa lalu Andromeda
Ada satu hal lain yang membuat kisah ini terasa begitu luar biasa.
Ketika kita melihat Andromeda di langit malam, kita tidak sedang melihat galaksi itu sebagaimana keadaannya pada saat yang sama dengan kita.
Cahaya dari Andromeda membutuhkan sekitar 2,5 juta tahun untuk mencapai Bumi.
Artinya, setiap kali manusia melihat Andromeda, kita sedang melihat keadaan galaksi tersebut sekitar 2,5 juta tahun yang lalu.
Dalam rentang waktu tersebut, Bumi sendiri telah mengalami perubahan yang sangat besar.
Manusia modern bahkan belum ada ketika cahaya yang sekarang kita lihat dari Andromeda memulai perjalanannya menuju Bumi.
Dan pada saat yang sama, kita mencoba menghitung apa yang akan terjadi pada kedua galaksi miliaran tahun dari sekarang.
Di sinilah astronomi menunjukkan betapa kecilnya skala waktu manusia dibandingkan dengan perjalanan sebuah galaksi.
Jadi, apakah Bima Sakti dan Andromeda sedang bertabrakan?
Jawabannya tidak bisa lagi disederhanakan menjadi “pasti” atau “tidak.”
Wilayah halo Andromeda memang diketahui sangat luas dan telah mencapai wilayah yang sangat dekat dengan halo Bima Sakti. Namun hal tersebut bukan berarti bintang-bintang dari kedua galaksi sedang saling menghantam.
Sementara itu, mengenai apakah Bima Sakti dan Andromeda benar-benar akan bergabung, penelitian terbaru masih menghasilkan kemungkinan yang berbeda.
Penelitian 2025 memperkirakan peluang merger dalam 10 miliar tahun berada sedikit di atas 50 persen dalam model lengkap yang memasukkan M33 dan LMC. Penelitian 2026 yang masih berupa preprint menghasilkan sekitar 90 persen dalam model utamanya, tetapi juga menunjukkan bahwa hasil tersebut sangat sensitif terhadap pengukuran gerak Andromeda.
Karena itu, kalimat yang paling aman secara ilmiah bukanlah:
“Bima Sakti pasti akan bertabrakan dengan Andromeda.”
Melainkan:
“Bima Sakti dan Andromeda sedang berada dalam interaksi gravitasi jangka panjang, sementara para astronom masih berusaha memastikan bagaimana perjalanan kedua galaksi tersebut akan berakhir.”
Dan mungkin justru ketidakpastian itulah yang membuat kisah ini semakin menarik.
Sebab ketika kita menatap Andromeda di langit malam, kita sedang melihat cahaya dari sebuah galaksi yang menempuh perjalanan sekitar 2,5 juta tahun menuju mata kita.
Kita melihat masa lalunya.
Sementara masa depan Bima Sakti dan Andromeda masih terus bergerak menuju sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui.
Bagi manusia, miliaran tahun adalah rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan.
Bagi galaksi, itu mungkin hanya satu bagian kecil dari perjalanan panjang yang telah berlangsung selama miliaran tahun dan akan terus berjalan jauh setelah manusia tidak lagi ada untuk menyaksikannya.
Sumber utama:
- NASA — informasi mengenai halo Galaksi Andromeda dan interaksi Bima Sakti–Andromeda.
- Nature Astronomy — penelitian 2025 mengenai probabilitas merger Bima Sakti–Andromeda.
- arXiv — penelitian 2026 mengenai nasib sistem Bima Sakti–Andromeda.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar