Kamis, 23 Juli 2026

Ribuan Mahasiswa Turun ke Desa se-Bali, Dorong Solusi bagi Masyarakat

 


Tahukah Anda?

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) masih menjadi bagian dari proses pembelajaran di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung ke masyarakat untuk memahami berbagai persoalan sekaligus berkontribusi mencari solusi sesuai bidang keilmuannya.


DENPASAR – Sebanyak 12.942 mahasiswa dari 39 perguruan tinggi di Bali akan turun ke berbagai desa di seluruh Pulau Dewata melalui Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera. Program ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berbasis desa.

Pelaksanaan program tersebut juga didampingi oleh 953 dosen pembimbing lapangan yang akan mendampingi mahasiswa selama menjalankan kegiatan pengabdian di berbagai wilayah Bali.

Berbagai kegiatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga diarahkan untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Fokus program mencakup pengelolaan sampah berbasis sumber, pelestarian lingkungan, penguatan pertanian organik, pengembangan UMKM, pemanfaatan produk lokal Bali, hingga pelestarian adat, seni, budaya, bahasa, aksara, dan kain tenun Bali.

Pemerintah Provinsi Bali menilai desa memiliki peran penting sebagai fondasi pembangunan daerah. Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang dimiliki mahasiswa maupun dosen.

Program ini diluncurkan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat dijalankan oleh pemerintah saja, tetapi memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, hingga masyarakat.

Kepada para mahasiswa, ia berpesan agar masa pengabdian tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar bersama masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi desa, serta menghadirkan solusi dan inovasi yang memberikan manfaat nyata.

Program ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pemerintah pusat menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan daerah merupakan salah satu cara memperkuat transformasi sosial, termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan seperti pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan desa yang berkelanjutan.

Melalui keterlibatan hampir 13 ribu mahasiswa, program ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat, sehingga hasil pembelajaran di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan daerah.

Sudut Pandang

Program pengabdian masyarakat bukanlah hal baru di lingkungan perguruan tinggi. Namun, tantangan utamanya sering kali bukan pada jumlah peserta, melainkan pada dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Kehadiran hampir 13 ribu mahasiswa tentu menjadi potensi besar apabila pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang dimiliki mampu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di desa. Sebaliknya, apabila kegiatan hanya berfokus pada pemenuhan kewajiban akademik, manfaatnya berisiko berhenti setelah program selesai.

Di sisi lain, desa bukan sekadar lokasi pengabdian. Setiap desa memiliki karakter, potensi, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, keberhasilan program semacam ini sangat bergantung pada kemampuan membangun kolaborasi dengan masyarakat, mendengarkan kebutuhan lokal, serta menghasilkan solusi yang dapat terus berkembang setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa yang terlibat, tetapi juga dari seberapa besar perubahan positif yang mampu dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...