DENPASAR, – Sebanyak 11 bus listrik disiapkan untuk memperkuat layanan transportasi publik di Bali melalui Proyek Bali E-Mobility. Armada ini direncanakan melayani Koridor 1 Trans Sarbagita, yang menghubungkan kawasan GOR Ngurah Rai, Universitas Udayana, hingga Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Peluncuran bus listrik beserta infrastruktur pengisian dayanya berlangsung di Lapangan Timur Monumen Bajra Sandhi, Niti Mandala Renon, Denpasar, Kamis (22/10/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan transportasi publik yang lebih rendah emisi sekaligus mendorong penggunaan kendaraan listrik di Bali.
Namun, manfaat program ini tidak hanya ditentukan oleh hadirnya armada baru. Kesiapan layanan, kemudahan akses, biaya perjalanan, dan kemampuan menarik masyarakat untuk menggunakan angkutan umum akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilannya.
Koridor GOR Ngurah Rai–GWK Menjadi Tahap Awal
Berdasarkan kajian kelayakan yang didukung Global Green Growth Institute (GGGI), Koridor 1 Trans Sarbagita dipilih untuk penerapan awal bus listrik. Rute pulang-pergi ini memiliki panjang sekitar 53 kilometer dan melintasi kawasan Denpasar hingga Badung.
Sebanyak 11 bus listrik disiapkan bersama enam perangkat pengisian daya cepat (fast charger) yang ditempatkan di dua lokasi. Infrastruktur tersebut mendukung pengisian baterai untuk kebutuhan operasional armada, termasuk pengisian pada malam hari dan pengisian tambahan ketika diperlukan.
Pemilihan satu koridor sebagai tahap awal memungkinkan pengelola mempelajari kebutuhan perjalanan, pola pengisian daya, pemeliharaan kendaraan, serta pengaturan armada sebelum mempertimbangkan pengembangan lebih lanjut.
Dengan demikian, program ini bukan hanya pengadaan kendaraan, melainkan juga pengujian sistem transportasi listrik yang perlu disesuaikan dengan kondisi operasional di Bali.
Kapan Bus Listrik Mulai Melayani Masyarakat?
Dinas Perhubungan Provinsi Bali menargetkan bus listrik mulai beroperasi pada Desember 2026. Target tersebut disampaikan setelah peluncuran pada 22 Oktober 2026, dengan pelaksanaan layanan menyesuaikan kesiapan operasional dan administrasi kendaraan.
Pada tahap awal, tidak seluruh armada harus beroperasi secara bersamaan. Sebagian bus dapat disiapkan sebagai cadangan untuk membantu menjaga kelangsungan layanan ketika kendaraan lain menjalani pengisian daya atau pemeliharaan.
Pengelola juga perlu memastikan kesiapan pengemudi, penetapan operator, sistem pemantauan armada, dan mekanisme pelayanan penumpang. Selama masa uji coba, layanan direncanakan dapat digunakan tanpa tarif. Ketentuan tarif setelah uji coba akan mengikuti penyelesaian proses administrasi dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah.
Kepastian jadwal dan mekanisme layanan penting bagi masyarakat agar kehadiran armada baru benar-benar menjadi pilihan perjalanan yang dapat diandalkan, bukan hanya menjadi bagian dari program percontohan.
Peluang Mengurangi Emisi, tetapi Perlu Diukur
Bus listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot ketika beroperasi. Karakteristik ini berpotensi membantu mengurangi pencemaran langsung di sepanjang jalur perjalanan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
GGGI memproyeksikan proyek percontohan Bali E-Mobility dapat mengurangi sekitar 2.194 ton karbon dioksida ekuivalen selama sepuluh tahun operasional. Angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan perencanaan proyek, bukan hasil pengurangan emisi yang sudah terealisasi.
Besarnya manfaat lingkungan nantinya akan dipengaruhi oleh intensitas penggunaan bus, jenis perjalanan yang digantikan, konsumsi energi, serta sumber listrik untuk mengisi baterai. Penggunaan listrik yang semakin bersih dapat memperkuat manfaat pengurangan emisi dari transportasi listrik.
Karena itu, evaluasi program perlu didukung data operasional, seperti jumlah penumpang, jarak tempuh, konsumsi listrik, biaya pemeliharaan, dan perkiraan emisi yang berhasil dihindari. Data tersebut akan membantu pemerintah menilai manfaat program secara lebih terukur.
Transportasi Publik Harus Menjawab Kebutuhan Warga
Penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan tidak otomatis membuat masyarakat beralih ke angkutan umum. Warga tetap membutuhkan layanan yang sesuai dengan tujuan perjalanan, memiliki jadwal yang jelas, mudah dijangkau, dan menawarkan biaya yang terjangkau.
Untuk koridor GOR Ngurah Rai–GWK, hal yang perlu diperhatikan antara lain keterhubungan dengan kawasan pendidikan, permukiman, pusat kegiatan, dan tujuan perjalanan lainnya. Kemudahan berpindah moda juga penting agar bus dapat menjadi bagian dari sistem transportasi yang saling terhubung.
Keberhasilan layanan nantinya dapat dilihat dari tingkat pemanfaatan armada, keteraturan perjalanan, kepuasan pengguna, dan kemampuan layanan memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat. Indikator tersebut lebih bermakna daripada sekadar menghitung jumlah bus yang tersedia.
Pada saat yang sama, bus listrik perlu dipandang sebagai bagian dari sistem transportasi publik, bukan sebagai solusi tunggal untuk seluruh persoalan kemacetan dan pencemaran di Bali.
Dari Kebijakan Energi Bersih Menuju Pelaksanaan
Pengembangan bus listrik sejalan dengan kebijakan energi bersih Pemerintah Provinsi Bali, termasuk Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
Dalam peluncuran tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa percepatan penggunaan kendaraan listrik merupakan bagian dari kebijakan energi bersih dari hulu hingga hilir. Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut proyek Bali E-Mobility sebagai bentuk kerja sama Indonesia, Republik Korea, dan GGGI untuk mendorong transisi energi.
Dukungan proyek ini berasal dari Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan, bersama Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan mitra terkait, termasuk GGGI.
Kolaborasi tersebut menyediakan dukungan awal bagi pengembangan transportasi listrik di Bali. Tantangan selanjutnya adalah memastikan keberlanjutan pembiayaan, pengelolaan armada, dan pemeliharaan infrastruktur setelah tahap percontohan berjalan.
Keberhasilan Ditentukan oleh Manfaat Nyata
Sebelas bus listrik Trans Sarbagita membuka peluang bagi Bali untuk mengembangkan layanan transportasi publik dengan teknologi yang lebih rendah emisi. Namun, hasil akhirnya baru dapat dinilai setelah armada beroperasi dan data penggunaan tersedia.
Pemerintah perlu memastikan layanan berjalan konsisten, infrastruktur pengisian daya berfungsi dengan baik, dan biaya operasional dapat dikelola secara berkelanjutan. Evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui apakah layanan mampu menarik pengguna baru dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan yang paling nyata adalah tersedianya angkutan umum yang aman, nyaman, terjangkau, dan dapat diandalkan. Bagi lingkungan, keberhasilannya perlu terlihat melalui pengurangan emisi yang dapat dihitung.
Dengan pendekatan tersebut, Proyek Bali E-Mobility dapat menjadi lebih dari sekadar peluncuran armada baru. Program ini menjadi kesempatan untuk menguji bagaimana transportasi publik yang lebih bersih dapat diterapkan, dievaluasi, dan dikembangkan sesuai kebutuhan Bali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar