Senin, 12 Oktober 2026

Barong dan Rangda di Bali: Jejak Tradisi, Kisah Calon Arang, dan Sejarah yang Belum Sepenuhnya Terungkap

Barong Bali dengan ornamen dan hiasan khas dalam tradisi seni dan budaya masyarakat Bali.

Barong Bali merupakan bagian dari kekayaan seni, tradisi, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali. Bentuk, fungsi, serta maknanya dapat berbeda sesuai tradisi dan wilayah tempat Barong tersebut berkembang.

Dari Barong Ket, Barong Landung, hingga Barong Brutuk di Trunyan, kebudayaan Bali mengenal beragam bentuk Barong dengan ciri dan konteks tradisinya masing-masing. Bersama Rangda dan kisah Calon Arang, semuanya membuka jendela untuk menelusuri hubungan antara seni, kepercayaan, sastra, dan sejarah Bali. Namun, sejak kapan tradisi ini bermula? Tidak semua jawabannya telah ditemukan.

Barong dan Rangda merupakan dua sosok yang sangat dikenal dalam kebudayaan Bali. Keduanya hadir dalam seni pertunjukan, berbagai tradisi masyarakat, serta sejumlah kegiatan keagamaan. Bagi sebagian orang, Barong identik dengan pelindung dan kekuatan kebaikan, sedangkan Rangda kerap dihubungkan dengan kekuatan yang menakutkan, ilmu gaib, dan pertarungan spiritual.

Namun, semakin jauh kita menelusuri keduanya, semakin banyak pula hal yang menarik untuk dipertanyakan.

Barong ternyata tidak hanya memiliki satu bentuk. Ada Barong Ket dengan wujud menyerupai makhluk berkaki empat, Barong Landung yang tampil sebagai figur manusia berukuran besar, hingga Barong Brutuk di Desa Trunyan yang menggunakan busana dari daun pisang kering. Setiap bentuk memiliki karakter dan konteks budaya yang tidak selalu sama.

Di sisi lain, Rangda tidak hanya dikenal melalui penampilannya yang menyeramkan. Sosok ini juga hadir dalam tradisi pertunjukan Calon Arang, yang memiliki hubungan dengan sastra, praktik ritual, dan penafsiran masyarakat Bali terhadap kekuatan spiritual.

Lalu, bagaimana semua itu terbentuk? Apakah Barong dan Rangda berasal dari satu masa yang sama? Apakah keduanya berkembang dari satu kisah tertentu? Dan apakah ada bukti yang memungkinkan kita mengetahui kapan keduanya pertama kali muncul dalam bentuk yang dikenal sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak seluruhnya memiliki jawaban pasti.

Sejumlah sumber kebudayaan dan penelitian akademik memberikan petunjuk mengenai bentuk, fungsi, serta kemungkinan pengaruh budaya yang membentuk tradisi Barong dan Rangda. Namun, petunjuk itu perlu ditempatkan secara hati-hati. Kisah yang diwariskan masyarakat tidak selalu sama dengan kronologi sejarah, sedangkan temuan arkeologis mengenai suatu figur tidak otomatis membuktikan asal-usul figur lain yang memiliki kemiripan.

Karena itu, menelusuri Barong dan Rangda bukan sekadar mencari satu cerita tentang asal-usulnya. Kita juga perlu memahami bagaimana tradisi tersebut hidup, berkembang, dan diberi makna oleh masyarakat dari generasi ke generasi.

Barong bukan hanya satu bentuk

Ketika mendengar kata Barong, banyak orang mungkin langsung membayangkan Barong Ket: sosok berambut lebat, bertubuh menyerupai hewan, dengan tapel atau kedok yang khas dan gerakan yang ekspresif.

Barong Ket memang menjadi salah satu bentuk Barong Bali yang paling dikenal. Namun, menyamakan seluruh Barong dengan Barong Ket akan mengabaikan keragaman tradisi yang berkembang di pulau ini.

Dalam berbagai dokumentasi kebudayaan, dikenal pula Barong Bangkal yang menyerupai babi hutan, Barong Macan dengan karakter menyerupai harimau, Barong Gajah, Barong Asu yang menyerupai anjing, Barong Blasblasan atau Kedingkling, Barong Landung, serta Barong Brutuk di Trunyan.

Daftar tersebut bukan berarti seluruh bentuk Barong memiliki fungsi, kedudukan, atau sejarah yang sama. Sebagian dikenal melalui pertunjukan yang berkaitan dengan upacara tertentu, sebagian hadir dalam tradisi keliling atau ngelawang, dan sebagian lainnya memiliki kedudukan sakral dalam kehidupan masyarakat setempat.

Bentuk fisiknya pun memperlihatkan keragaman. Ada Barong yang menyerupai hewan, ada yang tampil sebagai figur manusia, dan ada pula yang tidak menyerupai Barong Ket sebagaimana lazim dibayangkan masyarakat luas.

Keragaman ini penting karena menunjukkan bahwa istilah Barong tidak cukup dipahami melalui satu definisi atau satu cerita asal-usul. Untuk memahami setiap bentuknya, kita perlu melihat tradisi yang melingkupinya, masyarakat yang merawatnya, serta sumber yang dapat menjelaskan perjalanan masing-masing.

Dengan demikian, pertanyaan tentang asal-usul Barong sebaiknya tidak langsung diarahkan pada satu kesimpulan yang berlaku untuk semuanya. Bisa jadi, setiap bentuk memiliki perjalanan perkembangan yang berbeda, sementara hubungan di antara bentuk-bentuk tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Barong Ket dan dugaan tentang asal-usulnya

Salah satu sumber yang dapat menjadi titik awal penelusuran adalah artikel Direktorat Jenderal Kebudayaan berjudul Barong Ket, Kesenian Barongan Asal Bali, yang diterbitkan pada 2016.

Artikel tersebut menyebut Barong sebagai salah satu bentuk tari bebali yang diduga memiliki hubungan dengan kebudayaan pra-Hindu. Artikel itu juga membahas kemungkinan perpaduan unsur Hindu dan kebudayaan Bali Kuno, khususnya yang bercorak Buddha, serta dugaan adanya pengaruh budaya Tionghoa dalam pembentukan Barong Ket.

Sumber tersebut juga menyebut kemungkinan hubungan kata barong dengan istilah Sanskerta bharwang, yang diartikan sebagai beruang. Namun, hubungan etimologis semacam ini perlu dipahami sebagai penjelasan yang dikemukakan sumber tersebut, bukan sebagai kepastian yang telah menyelesaikan seluruh persoalan asal-usul nama Barong.

Demikian pula dengan dugaan pengaruh budaya Tionghoa. Kemiripan bentuk tapel atau unsur visual antara kesenian dari wilayah yang berbeda dapat menjadi bahan perbandingan yang menarik. Akan tetapi, kemiripan saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa suatu kesenian berasal dari tempat tertentu atau bahwa proses pengaruh budaya berlangsung melalui jalur yang telah diketahui secara pasti.

Untuk memahami proses tersebut dengan lebih kuat, diperlukan bukti yang saling mendukung, misalnya sumber tertulis yang dapat ditanggal, kajian sejarah kesenian, perbandingan ikonografi, dan penelitian tentang perkembangan bentuk pertunjukan.

Oleh karena itu, dugaan mengenai pengaruh budaya lain sebaiknya tetap ditempatkan sebagai salah satu kemungkinan yang perlu dikaji. Kita tidak perlu menolak kemungkinan tersebut, tetapi juga tidak perlu menjadikannya sebagai jawaban final.

Barong Ket yang dikenal masyarakat sekarang merupakan bagian dari kebudayaan Bali. Pertanyaan tentang bagaimana bentuknya terbentuk, unsur apa saja yang berperan, dan kapan proses tersebut berlangsung masih dapat ditelusuri melalui penelitian lebih lanjut.

Banaspati Raja dan makna Barong sebagai pelindung

Dalam pembahasan Barong Ket, istilah Banaspati Raja juga kerap muncul. Artikel Direktorat Jenderal Kebudayaan tersebut menyebut Barong Ket sebagai tari Banaspati Raja dan menghubungkannya dengan gambaran raja hutan serta kekuatan supranatural.

Dalam kehidupan budaya Bali, Barong sering dipahami sebagai sosok pelindung. Makna ini dapat dijumpai dalam penjelasan mengenai Barong sebagai bagian dari tradisi keagamaan dan pertunjukan masyarakat.

Namun, kita perlu membedakan antara penjelasan mengenai makna simbolis Barong dan penjelasan mengenai sejarah kemunculannya. Mengetahui bahwa Barong dimaknai sebagai pelindung tidak otomatis menjawab kapan konsep tersebut terbentuk atau bagaimana makna itu berkembang dalam perjalanan sejarah.

Begitu pula, penggunaan nama Banaspati Raja dalam konteks Barong Ket tidak berarti bahwa semua bentuk Barong memiliki karakter dan fungsi yang identik.

Bagi masyarakat yang merawat tradisinya, Barong dapat memiliki kedudukan yang jauh melampaui objek seni. Bentuk, perlengkapan, tempat penyimpanan, waktu pementasan, dan tata cara penggunaannya dapat berkaitan dengan aturan serta kepercayaan setempat.

Karena itu, memahami Barong sebagai pelindung juga memerlukan pemahaman mengenai konteks masyarakat yang mempercayai dan menjalankan tradisi tersebut.

Barong Landung dan penafsiran tentang hubungan Bali-Tionghoa

Berbeda dengan Barong Ket, Barong Landung tampil sebagai figur manusia berukuran besar. Di sejumlah tradisi, dikenal pasangan figur yang sering disebut Jero Gede dan Jero Luh.

Barong Landung menjadi salah satu bentuk Barong yang menarik untuk dikaji karena kerap dihubungkan dengan kisah Sri Aji Jaya Pangus dan Kang Cing Wie, seorang perempuan yang dalam tradisi tersebut dikisahkan berasal dari keluarga saudagar Tionghoa.

Kisah ini dikenal dalam penuturan mengenai hubungan Bali dengan Tiongkok. Dalam sejumlah versi cerita, hubungan antara Jaya Pangus dan Kang Cing Wie dipandang sebagai simbol perjumpaan budaya Bali dan Tionghoa.

Penelitian I Nyoman Cerita, A.A. Bagus Wirawan, dan I Nyoman Suarka yang diterbitkan dalam E-Journal of Cultural Studies Universitas Udayana pada 2017 membahas Barong Landung dari perspektif akulturasi budaya Bali dan Tionghoa. Penelitian tersebut menafsirkan Barong Landung sebagai representasi simbolis yang berkaitan dengan Jaya Pangus dan Kang Cing Wie.

Kajian ini memberikan sudut pandang akademik untuk memahami bagaimana sebuah kesenian dapat mencerminkan hubungan antarkebudayaan. Namun, penafsiran tersebut perlu ditempatkan sesuai ruang lingkupnya. Penelitian itu tidak dengan sendirinya membuktikan tanggal pasti penciptaan Barong Landung atau memastikan bahwa seluruh bentuk Barong berasal dari proses akulturasi yang sama.

Dalam sejarah, perjumpaan antarkelompok masyarakat dapat melahirkan pertukaran benda, gagasan, kepercayaan, dan bentuk seni. Unsur yang datang dari luar juga dapat diolah kembali sehingga memiliki makna baru dalam kehidupan masyarakat setempat.

Barong Landung dapat dipelajari melalui kerangka tersebut. Namun, rincian mengenai kapan, bagaimana, dan melalui proses apa hubungan budaya itu membentuk tradisi Barong Landung tetap perlu didukung oleh bukti yang memadai.

Kisah Jaya Pangus dan Kang Cing Wie dengan demikian memiliki nilai sebagai bagian dari ingatan budaya masyarakat. Sementara itu, pertanyaan tentang hubungan langsung antara kisah tersebut, sejarah kerajaan, dan pembentukan Barong Landung tetap perlu dikaji melalui sumber-sumber yang relevan.

Barong Brutuk di Trunyan: Tradisi dengan ciri yang berbeda

Di Desa Trunyan, kawasan Danau Batur, Kabupaten Bangli, terdapat tradisi Barong Brutuk yang memiliki karakter sangat berbeda dari Barong Ket maupun Barong Landung.

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah penggunaan busana dari daun pisang kering atau kraras. Topeng-topengnya juga memiliki bentuk yang berbeda dari tapel Barong Ket yang populer dalam pertunjukan wisata.

Dokumentasi yang diterbitkan melalui blog Institut Seni Indonesia Denpasar pada 2011 menguraikan hubungan tradisi Barong Brutuk dengan Pura Pancering Jagat di Trunyan. Dokumentasi tersebut menyebut keberadaan figur yang dikenal sebagai Bhatara Datonta atau Bhatara Ratu Pancering Jagat, serta topeng-topeng yang digunakan dalam tradisi Brutuk.

Sumber itu menjelaskan bahwa para penari laki-laki menjalani persiapan ritual sebelum pementasan. Salah satu hal yang disebutkan adalah masa persiapan selama 42 hari. Busana dari daun pisang kering dan penggunaan topeng menjadi bagian penting dari kekhasan pertunjukan ini.

Informasi tersebut memperlihatkan bahwa Barong Brutuk tidak dapat dipahami hanya sebagai pertunjukan topeng. Tradisi ini berkaitan dengan tempat suci, persiapan para penari, tata pelaksanaan ritual, dan kehidupan masyarakat yang merawatnya.

Dokumentasi yang sama mengemukakan dugaan mengenai hubungan tinggalan di Pura Pancering Jagat dengan kebudayaan megalitik atau pra-Hindu. Namun, dugaan tersebut tidak boleh langsung diperlakukan sebagai penanggalan pasti bagi seluruh tradisi Barong Brutuk.

Keberadaan sebuah arca atau tinggalan yang diperkirakan berasal dari masa tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh bentuk pertunjukan yang berkembang di sekitarnya telah ada dalam bentuk yang sama sejak masa tersebut.

Untuk menetapkan usia dan perkembangan tradisi secara lebih meyakinkan, diperlukan kajian arkeologis dan sejarah yang secara khusus dapat menghubungkan tinggalan, sumber tertulis, dan praktik budaya yang masih berlangsung.

Di sinilah Barong Brutuk menjadi menarik. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana sebuah bentuk kesenian dapat bertahan dalam konteks ritual yang khas, sekaligus menyimpan pertanyaan mengenai perjalanan sejarahnya.

Kita dapat mendokumentasikan ciri-ciri yang diketahui, mempelajari praktik yang masih dijalankan, dan mencatat dugaan yang pernah diajukan. Namun, kita tidak harus menyatakan bahwa seluruh asal-usulnya sudah terungkap.

Barong, Rangda, dan sesuhunan lainnya dengan bentuk serta ornamen khas dalam tradisi budaya Bali.

Barong dan Rangda dalam tradisi budaya dan spiritual masyarakat Bali. Keberadaan serta peran masing-masing memiliki makna yang berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.

Barong Swari dan kisah pengruwatan di Desa Abuan

Bentuk lain yang memperlihatkan hubungan erat antara Barong dan kisah keagamaan adalah Barong Swari, yang salah satunya dikenal dalam tradisi Ngunying di Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mendokumentasikan pementasan tradisi Ngunying Barong Swari dalam Pesta Kesenian Bali ke-44 pada Juni 2022. Dokumentasi tersebut menjelaskan bahwa pertunjukan yang disajikan merupakan rekasadana atau pergelaran seni untuk hiburan, bukan pelaksanaan ritual asli secara utuh. Barong yang digunakan dalam pementasan tersebut merupakan duplikat, sedangkan Barong asli tetap disimpan di pura setempat.

Dalam versi kisah yang ditampilkan, cerita berkaitan dengan Dewa Siwa, Dewi Uma, dan Rare Kumara. Kemarahan Uma kemudian berujung pada perubahan dirinya menjadi sosok menyeramkan yang dikaitkan dengan Dewi Durga. Kisah tersebut berlanjut dengan munculnya wabah dan usaha para dewa untuk memulihkan keadaan melalui wujud-wujud yang berkaitan dengan Topeng Bang, Telek, dan Barong.

Cerita itu memberi gambaran mengenai bagaimana suatu tradisi setempat menjelaskan hubungan antara kekuatan spiritual, gangguan, dan upaya memulihkan kesejahteraan. Namun, kisah Barong Swari yang didokumentasikan di Desa Abuan tidak dapat langsung dianggap sebagai satu-satunya cerita tentang asal-usul semua Barong atau Rangda di Bali.

Kita perlu memperhatikan ruang lingkup sumbernya. Dokumentasi tersebut mencatat versi kisah yang dibawakan dalam konteks tradisi dan pementasan tertentu. Ia bukan bukti bahwa seluruh bentuk Barong memiliki asal-usul yang sama atau bahwa kisah tersebut merupakan kronologi sejarah yang dapat ditanggal secara pasti.

Tradisi lisan dan kisah keagamaan memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Keduanya dapat membantu menjelaskan bagaimana masyarakat memahami dunia spiritual dan memberi makna terhadap suatu ritual. Namun, kedudukan itu berbeda dari bukti sejarah yang digunakan untuk menetapkan waktu kemunculan sebuah kesenian.

Dengan membedakan keduanya, kita dapat menghargai kisah Barong Swari tanpa harus mengubahnya menjadi kesimpulan sejarah yang melampaui bukti.

Rangda: sosok yang tidak cukup dijelaskan dari penampilannya

Jika Barong dikenal melalui beragam bentuk dan karakter, Rangda memiliki ciri visual yang sangat khas. Sosoknya umumnya digambarkan dengan wajah menyeramkan, mata melotot, taring, rambut panjang, dan lidah yang menjulur.

Dalam berbagai pertunjukan, Rangda sering dihubungkan dengan kekuatan yang menakutkan atau tidak terkendali. Namun, penampilannya saja tidak cukup untuk menjelaskan seluruh makna Rangda dalam kebudayaan Bali.

Makna suatu figur dapat berubah atau memiliki penekanan berbeda sesuai cerita, konteks ritual, dan tradisi masyarakat yang menggunakannya. Karena itu, Rangda sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai tokoh jahat yang harus dikalahkan oleh Barong.

Kita juga perlu berhati-hati ketika membandingkan Rangda dengan figur dalam ikonografi Hindu, terutama Dewi Durga. Keduanya dapat memiliki unsur visual atau asosiasi tertentu yang mengundang perbandingan. Akan tetapi, kesamaan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Rangda dan Durga adalah figur yang identik dalam sejarah.

Kajian arkeologis mengenai tinggalan di Pura Jaksan, misalnya, mengidentifikasi sebuah arca sebagai Durga Mahisasuramardini berdasarkan ciri ikonografinya. Kajian itu membahas tinggalan arkeologis yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-11 hingga ke-13 Masehi.

Temuan seperti ini penting untuk memahami perkembangan ikonografi Hindu di Bali. Namun, arca Durga bukan bukti langsung mengenai kapan Rangda mulai muncul dalam bentuk yang dikenal sekarang.

Untuk menjelaskan hubungan historis di antara keduanya, diperlukan bukti yang lebih khusus, seperti sumber tertulis, kajian ikonografi yang komparatif, atau penelitian sejarah yang dapat menunjukkan hubungan tersebut secara meyakinkan.

Sampai bukti semacam itu dapat menjelaskan persoalannya dengan lebih terang, kita tidak perlu menetapkan tahun kemunculan Rangda ataupun menyatakan bahwa sosoknya merupakan salinan langsung dari Durga.

Sikap ini bukan berarti menutup kemungkinan adanya hubungan. Sebaliknya, kita membiarkan pertanyaan itu tetap terbuka untuk dikaji.

Calon Arang: hubungan antara sastra, pertunjukan, dan tradisi spiritual

Pembahasan mengenai Rangda tidak dapat dilepaskan dari tradisi pertunjukan Calon Arang yang dikenal di Bali.

Calon Arang merupakan kisah yang berkaitan dengan seorang janda yang memiliki kekuatan gaib dan menimbulkan gangguan terhadap kehidupan masyarakat. Dalam berbagai bentuk pementasan Bali, tokoh Calon Arang atau figur Rangda menempati posisi penting dalam kisah yang berkaitan dengan kekuatan spiritual, gangguan, dan pemulihan keseimbangan.

Namun, hubungan antara kisah Calon Arang, tokoh Rangda, dan sejarah pembentukan figur Rangda perlu dipahami secara hati-hati. Tradisi sastra dan pertunjukan dapat mengalami perubahan ketika diwariskan, ditafsirkan, atau disajikan dalam bentuk seni yang berbeda.

Penelitian I Made Marajaya dan Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Bali pada 2025 membahas adaptasi dalam pertunjukan wayang kulit Calonarang di Bali. Kajian tersebut menelaah perubahan bentuk pementasan, termasuk penggunaan aktor yang hadir secara langsung dalam ruang pertunjukan wayang, serta ketegangan antara integritas ritual dan kebutuhan spektakel.

Penelitian itu memperlihatkan bahwa Calonarang bukan hanya kisah yang dapat dibaca sebagai cerita. Ia juga hidup dalam praktik pertunjukan yang terus berhadapan dengan perubahan media, selera penonton, dan konteks pementasan.

Dalam konteks Bali, pertunjukan Calonarang juga dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada hiburan. Unsur ritual, mantra, simbol, dan pemaknaan spiritual dapat menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan sesuai tradisi yang dijalankan.

Namun, penelitian mengenai bentuk pertunjukan masa kini tidak otomatis menjawab kapan teks Calon Arang pertama kali disusun, bagaimana setiap versinya berkembang, atau sejak kapan figur Rangda tampil dalam bentuk yang dikenal sekarang.

Pertanyaan mengenai sejarah teks, transmisi cerita, dan perubahan bentuk pertunjukan memerlukan penelusuran sumber sastra serta penelitian sejarah yang khusus. Karena itu, kita tidak perlu menetapkan asal-usul atau tanggal awalnya jika sumber yang tersedia belum memungkinkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang dapat kita katakan adalah bahwa tradisi Calonarang terus hidup dalam kebudayaan Bali dan menjadi salah satu ruang penting untuk memahami hubungan antara sastra, seni pertunjukan, serta kehidupan spiritual masyarakat.

Barong dan Rangda dalam kehidupan ritual dan pariwisata

Saat ini, Barong dan Rangda mudah dijumpai dalam gambaran pariwisata Bali. Keduanya menjadi bagian dari pertunjukan yang diperkenalkan kepada pengunjung dari berbagai daerah dan negara.

Namun, fungsi Barong dan Rangda tidak terbatas pada panggung wisata. Sejumlah tradisi masih menempatkan keduanya dalam konteks ritual keagamaan masyarakat.

Penelitian I Gede Suwantana, I Made Girinata, I Putu Agus Aryatnaya Giri, dan Sudip Chakravortti yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Bali pada 2026 membahas pertunjukan Barong-Rangda dalam ritual nyambutin, yakni upacara Hindu Bali yang berkaitan dengan penyambutan bayi. Penelitian itu berfokus pada satu konteks desa adat dan menggunakan observasi etnografis, wawancara, serta analisis teks untuk memahami makna pertunjukan.

Para peneliti menafsirkan Barong dan Rangda dalam konteks tersebut melalui gagasan mengenai hasrat yang terkendali dan tidak terkendali, serta ketegangan moral dalam kosmologi Bali. Kajian itu juga melihat pertunjukan sebagai sarana pewarisan nilai melalui pengalaman ritual.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa Barong-Rangda dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada tontonan. Namun, karena penelitian itu berfokus pada konteks tertentu, hasilnya tidak otomatis mewakili seluruh praktik Barong-Rangda di semua wilayah Bali.

Konteks menjadi sangat penting. Sebuah bentuk seni dapat memiliki fungsi berbeda sesuai tempat, waktu, tujuan penyelenggaraan, dan tradisi masyarakat yang merawatnya.

Dalam konteks pariwisata, pertunjukan dapat disajikan untuk memperkenalkan kebudayaan kepada penonton yang lebih luas. Dalam konteks ritual, bentuk yang sama atau serupa dapat memiliki aturan dan makna yang berbeda.

Karena itu, memahami Barong dan Rangda juga berarti memahami masyarakat yang merawat dan memberi makna kepada keduanya. Kita tidak dapat menyimpulkan fungsi seluruh Barong dan Rangda hanya berdasarkan pertunjukan yang dilihat wisatawan.

Sejarah yang panjang, tetapi tidak semua awalnya diketahui

Dari berbagai bentuk Barong, kisah Calon Arang, tradisi Barong Swari, Barong Brutuk di Trunyan, hingga penelitian tentang Barong Landung dan pertunjukan Barong-Rangda, kita memperoleh banyak petunjuk untuk memahami kebudayaan Bali.

Namun, petunjuk tersebut tidak membentuk satu jawaban final mengenai seluruh sejarah Barong dan Rangda.

Kita mengetahui bahwa Barong hadir dalam beragam bentuk dan konteks budaya. Kita memiliki dokumentasi yang menjelaskan ciri tradisi Barong Brutuk dan Barong Swari. Ada pula penelitian yang menafsirkan Barong Landung melalui akulturasi Bali-Tionghoa, kajian mengenai Calonarang sebagai tradisi pertunjukan yang terus berkembang, serta penelitian tentang fungsi ritual Barong-Rangda pada masa kini.

Namun, pertanyaan mengenai kapan masing-masing bentuk mulai muncul, bagaimana hubungannya berkembang, dan bagaimana figur Rangda terbentuk dalam bentuk yang dikenal sekarang belum seluruhnya dapat dijawab oleh sumber-sumber tersebut.

Kita juga belum dapat memastikan bahwa semua bentuk Barong berasal dari satu sumber atau berkembang melalui proses sejarah yang sama.

Ketidakpastian ini bukan alasan untuk mengabaikan penelitian yang sudah ada. Justru sebaliknya, kita perlu menjelaskan dengan jelas apa yang didukung sumber, apa yang merupakan penafsiran, dan apa yang masih belum dapat dipastikan.

Bisa jadi, penelitian terhadap naskah yang belum banyak dikaji, temuan arkeologis baru, atau perbandingan tradisi dari berbagai wilayah kelak membantu menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Namun, kita tidak dapat menjanjikan bahwa semua pertanyaan akan menemukan jawaban.

Yang dapat dilakukan sekarang adalah menjaga agar pengetahuan yang sudah tersedia tidak bercampur dengan dugaan yang belum terbukti.

Mengakui bahwa kita belum tahu juga merupakan bagian dari belajar

Barong dan Rangda mengingatkan kita bahwa kebudayaan yang terlihat akrab hari ini dapat menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang kita ketahui.

Sebuah pertunjukan yang kita saksikan, topeng yang kita kenali, atau ritual yang berlangsung di sekitar kita mungkin memiliki hubungan dengan tradisi yang diwariskan selama banyak generasi. Di baliknya bisa terdapat perubahan bentuk, perjumpaan budaya, pemaknaan spiritual, dan pengalaman masyarakat yang tidak seluruhnya tercatat dalam sumber tertulis.

Ketika menelusuri sejarahnya, kita mungkin menemukan jawaban untuk sebagian pertanyaan. Namun, kita juga mungkin sampai pada bagian ketika bukti yang tersedia belum cukup untuk membawa kita lebih jauh.

Pada titik itu, kita tidak perlu mengisi kekosongan dengan cerita yang terdengar meyakinkan. Kita cukup menjelaskan apa yang telah ditemukan, mengapa hal itu penting, dan mengapa pertanyaan lainnya masih terbuka.

Sebab, sejarah dan kebudayaan bukan hanya tentang mengumpulkan jawaban. Keduanya juga mengajarkan kita untuk bertanya dengan lebih baik, memeriksa sumber dengan lebih teliti, dan bersedia mengubah pemahaman ketika bukti baru ditemukan.

Mungkin kita belum mengetahui secara jelas kapan seluruh perjalanan Barong dan Rangda dimulai. Namun, kita dapat melihat bahwa tradisi tersebut hidup dalam berbagai bentuk, memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat, dan terus menjadi bagian dari kebudayaan Bali.

Barangkali, justru di situlah letak hal yang paling menarik: sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan kita ternyata menyimpan sejarah panjang yang belum seluruhnya kita pahami.

Mengakui bahwa kita belum tahu bukan berarti berhenti belajar. Sebaliknya, itu dapat menjadi awal bagi rasa ingin tahu yang lebih besar—bagi pembaca, masyarakat, maupun peneliti yang kelak melanjutkan penelusuran.

Karena dalam mempelajari sejarah dan kebudayaan, kejujuran untuk mengatakan “kita belum tahu” dapat menjadi langkah pertama menuju pengetahuan yang lebih baik.

Baca juga :

Bagaimana Bali Menjadi Bali?

Wayang di Nusantara dan Makna Tumpek Wayang di Bali


Sumber Rujukan untuk Pemeriksaan dan Pengembangan Artikel

Sumber-sumber berikut digunakan untuk memeriksa dan memperkaya pembahasan mengenai Barong dan Rangda di Bali. Setiap sumber memiliki ruang lingkup dan pendekatan yang berbeda. Sebagiannya merupakan dokumentasi kebudayaan, sedangkan lainnya berupa penelitian akademik. Karena itu, sumber-sumber ini tidak serta-merta menjadi jawaban final mengenai seluruh asal-usul, perkembangan, dan makna Barong maupun Rangda.

1. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Barong Ket, Kesenian Barongan Asal Bali (2016).

Artikel ini membahas Barong Ket serta sejumlah dugaan mengenai latar budaya dan perkembangannya. Keterangan mengenai asal-usul perlu dibaca sesuai konteks dan tingkat kepastian yang disampaikan sumber.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/barong-ket-kesenian-barongan-asal-bali/

2. Institut Seni Indonesia Denpasar. Barong Brutuk (2011).

Dokumentasi ini membahas tradisi Barong Brutuk di Trunyan, termasuk penggunaan busana dari daun pisang kering (kraras) dan persiapan ritual. Informasi mengenai kemungkinan latar prasejarah perlu dibedakan dari penanggalan arkeologis yang telah teruji.

Sumber: https://blog.isi-dps.ac.id/barong-brutuk/

3. I Nyoman Cerita, A.A. Bagus Wirawan, dan I Nyoman Suarka. “The Barong Landung Performing Art from the Perspective of Cultural Acculturation.” E-Journal of Cultural Studies, Universitas Udayana (2017).

Penelitian ini mengkaji seni pertunjukan Barong Landung melalui perspektif akulturasi budaya Bali–Tionghoa. Penafsirannya menjadi salah satu bahan untuk memahami hubungan Barong Landung dengan perjumpaan budaya, bukan bukti tunggal yang memastikan seluruh asal-usulnya.

Sumber: https://doi.org/10.24843/cs.2017.v10.i02.p01

4. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Tradisi Ngunying “Barong Swari” Desa Abuan Bangli Tampil Menegangkan (2022).

Dokumentasi ini menjelaskan pementasan Barong Swari dari Desa Abuan, Bangli, termasuk versi kisah yang melatarinya. Informasi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks tradisi setempat dan tidak langsung digeneralisasi sebagai satu-satunya versi kisah Barong Swari di Bali.

Sumber: https://disbud.baliprov.go.id/tradisi-ngunying-barong-swari-desa-abuan-bangli-tampil-menegangkan/

5. I Made Marajaya dan Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti. “Embodying the Living Corpse: Intermedial Adaptation in Balinese ‘Calonarang’ Shadow Theatre.” Jurnal Kajian Bali, 15(2) (2025).

Penelitian ini mengkaji adaptasi antarmedia dalam pertunjukan wayang kulit Calonarang di Bali, termasuk perubahan bentuk penyajian dan ketegangan antara integritas ritual dengan kebutuhan pertunjukan. Kajian ini membantu memahami perkembangan pertunjukan Calonarang, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan seluruh sejarah teks Calon Arang atau asal-usul Rangda.

Sumber: https://doi.org/10.24843/JKB.2025.v15.i02.p14

6. I Gede Suwantana, I Made Girinata, I Putu Agus Aryatnaya Giri, dan Sudip Chakravortti. “Symbolizing Desire: Barong and Rangda Performance in a Balinese Hindu Newborn Ritual.” Jurnal Kajian Bali, 16(2) (2026).

Penelitian ini membahas makna simbolis pertunjukan Barong dan Rangda dalam satu konteks ritual Hindu Bali, yaitu nyambutin. Temuannya memberikan sudut pandang mengenai makna dan fungsi pertunjukan dalam konteks yang diteliti, tetapi tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh tradisi Barong dan Rangda di Bali.

Sumber: https://doi.org/10.24843/JKB.2026.v16.i02.p12

Catatan Metodologis

Artikel ini tidak menetapkan satu tanggal pasti sebagai awal kemunculan Barong atau Rangda, tidak menyatakan bahwa seluruh bentuk Barong berasal dari satu kebudayaan, dan tidak menyamakan Rangda begitu saja dengan Dewi Durga. Ketiga hal tersebut memerlukan pembuktian dan penjelasan yang sesuai dengan sumber sejarah, kajian ikonografi, dokumentasi kebudayaan, serta penelitian akademik yang tersedia.

Dengan pendekatan tersebut, artikel ini diharapkan dapat menjadi bacaan edukatif bagi pembaca Lentera+, sekaligus merangkum penelusuran mengenai beragam bentuk Barong, kisah Calon Arang, tradisi Barong Brutuk dan Barong Swari, penafsiran mengenai Barong Landung, serta batas-batas pengetahuan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan saat ini.

Hal-hal yang belum dapat dipastikan tetap perlu disampaikan secara terbuka. Dalam kajian sejarah dan kebudayaan, mengakui keterbatasan bukti merupakan bagian dari upaya menjaga ketepatan informasi, bukan kelemahan dalam penulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ekspor Sapi Bali ke Timor-Leste Dijajaki, Potensi 10.000 Ekor Masih Perlu Diverifikasi

Pertemuan Pemerintah Provinsi Bali dan delegasi Timor-Leste membahas peluang kerja sama di sektor peternakan. (dok:Pemprov Bali) DENPASAR, ...