Kamis, 20 Agustus 2026

Indonesia Masuk Era Energi Hijau, Pekerjaan Baru dan Keterampilan Baru Ikut Dibutuhkan

Pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga kerja energi terbarukan di Indonesia
Pembangkit listrik tenaga surya menjadi salah satu bagian dari perkembangan energi terbarukan di Indonesia yang turut mendorong kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan baru

JAKARTA — Perubahan menuju energi yang lebih bersih tidak hanya menyangkut sumber listrik yang digunakan Indonesia. Di balik pembangunan energi terbarukan, kendaraan listrik, efisiensi energi, dan industri yang semakin ramah lingkungan, muncul kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan yang berbeda.

Hal tersebut menjadi bagian penting dari penguatan kerja sama Indonesia dan Jerman di bidang energi baru dan terbarukan (EBT) serta pendidikan dan pelatihan vokasi yang dibahas di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Kerja sama tersebut berlangsung di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.

Transisi Energi Mengubah Dunia Kerja

Ketika teknologi energi berubah, kebutuhan tenaga kerja juga ikut berubah.

Pembangkit listrik tenaga surya, sistem penyimpanan energi, jaringan listrik, kendaraan listrik, efisiensi energi hingga teknologi industri rendah karbon membutuhkan tenaga yang mampu memasang, mengoperasikan, merawat, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut.

Karena itu, transisi energi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan investasi. Ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai menjadi bagian penting agar perubahan tersebut dapat berjalan.

International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya juga mencatat bahwa kebutuhan tenaga kerja dan keterampilan di sektor energi terbarukan, jaringan listrik, dan efisiensi energi terus berkembang. Kekurangan tenaga terampil serta kesenjangan keterampilan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan energi bersih.

Indonesia Berpotensi Memiliki Jutaan Green Jobs

Perubahan tersebut bukan hanya kemungkinan jangka panjang.

Kementerian Ketenagakerjaan melalui Outlook Ketenagakerjaan 2026 memproyeksikan potensi pekerjaan hijau atau green jobs di Indonesia dapat mencapai sekitar 3,88 juta pekerjaan pada 2026.

Peluang tersebut berkaitan dengan perkembangan energi baru dan terbarukan, hilirisasi sumber daya alam, ekonomi sirkular, elektrifikasi transportasi, serta modernisasi industri. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Artinya, perubahan menuju ekonomi hijau tidak hanya menciptakan kebutuhan terhadap teknologi baru, tetapi juga membuka ruang bagi jenis pekerjaan dan keterampilan baru.

Mengapa Pendidikan Vokasi Menjadi Penting?

Di sinilah pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi semakin penting.

Tenaga kerja tidak cukup hanya memahami teori. Industri energi bersih membutuhkan keterampilan praktis yang sesuai dengan teknologi dan standar kerja yang terus berkembang.

Indonesia sebelumnya juga telah memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi di bidang energi terbarukan melalui berbagai kerja sama internasional. Kementerian ESDM, misalnya, menjalankan Renewable Energy Skills Development (RESD) untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan adaptif terhadap perkembangan teknologi energi bersih.

Kerja sama Indonesia dan Jerman dalam bidang vokasi menjadi relevan dalam konteks tersebut. Pengembangan tenaga kerja perlu berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi, investasi, dan kebutuhan industri.

Bukan Hanya Menciptakan Pekerjaan Baru

Transisi energi juga membawa perubahan terhadap pekerjaan yang sudah ada.

Sebagian pekerja di sektor energi konvensional dapat membutuhkan peningkatan keterampilan atau pelatihan ulang agar dapat berpindah ke pekerjaan yang muncul dalam ekonomi rendah karbon.

Karena itu, pembicaraan mengenai energi hijau juga berkaitan dengan bagaimana tenaga kerja dapat beradaptasi. Konsep transisi energi yang adil tidak hanya berbicara mengenai pengurangan emisi, tetapi juga memastikan pekerja dan masyarakat tidak tertinggal dalam perubahan tersebut.

International Labour Organization (ILO) juga menempatkan keterampilan, pekerjaan hijau, dan masa depan dunia kerja sebagai bagian penting dalam pembahasan transisi energi yang adil di Indonesia.

Teknisi panel surya mendukung perkembangan energi terbarukan di Indonesia
Tenaga teknis dengan keterampilan energi terbarukan menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan teknologi energi bersih di Indonesia


Dari Panel Surya hingga Pekerjaan Digital

Bayangan mengenai pekerjaan di sektor energi hijau juga semakin luas.

Pekerjaan tersebut tidak selalu berarti teknisi yang memasang panel surya. Perkembangan energi bersih membutuhkan berbagai keahlian, mulai dari teknik kelistrikan, mekanik, elektronika, otomasi, pengelolaan jaringan, pengolahan data, teknologi digital, keselamatan kerja, hingga pengelolaan proyek.

Artinya, seseorang yang hari ini mempelajari teknologi, teknik, kelistrikan, atau keterampilan digital dapat memiliki peluang untuk masuk ke berbagai sektor yang mendukung ekonomi hijau di masa depan.

Perubahan ini juga menjadi salah satu perhatian dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 yang berlangsung pada 19–20 Agustus di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, pengembang teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas percepatan transisi energi Indonesia.

Energi Hijau Bukan Sekadar Soal Listrik

Pada akhirnya, transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi dari yang lebih banyak menghasilkan emisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Di dalamnya terdapat perubahan besar pada industri, teknologi, pendidikan, keterampilan, dan dunia kerja.

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika tenaga kerja juga dipersiapkan untuk menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.

Jadi, ketika kita berbicara tentang masa depan energi Indonesia, sebenarnya kita juga sedang berbicara tentang masa depan pekerjaan jutaan orang.

Energi yang digunakan mungkin berubah. Teknologi yang bekerja di baliknya juga berubah. Dan pada akhirnya, orang-orang yang mengoperasikan teknologi tersebut harus ikut berubah.

Baca juga :

Bali Buka Peluang Investasi Eropa untuk Pengembangan Sektor Kesehatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saat Tanah Pertanian Dihargai Tinggi, Apa yang Membuat Petani Tetap Bertahan?

 Lahan pertanian di Bali yang menjadi bagian penting dalam menjaga produksi pangan dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat DENPASAR – Bagi...