Rabu, 19 Agustus 2026

Teknologi dan Pendidikan Berkolaborasi, Bali Perkuat Kemampuan Numerasi Generasi Muda

Kolaborasi teknologi dan pendidikan untuk siswa Bali
Kolaborasi teknologi dan pendidikan untuk memperkuat kemampuan numerasi dan kualitas SDM Bali di Denpasar, Jumat (14/8/2026).

DENPASAR – Upaya memperkuat kemampuan numerasi dan kualitas pendidikan di Bali mulai diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital. Kolaborasi Pemerintah Provinsi Bali bersama sejumlah mitra pendidikan dan teknologi menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih interaktif sekaligus memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan.

Kegiatan kolaborasi tersebut berlangsung di Gedung Wiswasabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (14/8/2026). Program ini melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, Telkomsel, Gasing Academy, Kuncie, serta pemangku kepentingan pendidikan untuk membangun ekosistem pembelajaran AI for Education yang dapat dimanfaatkan guru dan siswa.

Fokus kegiatan tidak hanya pada penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat membantu siswa memahami matematika dengan cara yang lebih sederhana, bertahap, dan menyenangkan.

Numerasi Menjadi Dasar Kemampuan Berpikir

Kemampuan numerasi bukan sekadar kemampuan melakukan perhitungan. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk memahami informasi berbasis angka, membaca data, menyelesaikan masalah, hingga mengambil keputusan.

Karena itu, penguatan numerasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Generasi muda tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat dan teknologi digital, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, serta mampu memahami informasi dengan baik.

Kolaborasi pendidikan dan teknologi di Bali diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Guru dan siswa diperkenalkan pada pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran guru.

Belajar Matematika dengan Metode GASING

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah metode GASING, singkatan dari Gampang, Asyik, Menyenangkan.

Metode yang dikembangkan bersama Prof. Yohanes Surya tersebut dirancang agar konsep matematika dapat dipelajari secara bertahap dan lebih mudah dipahami. Pendekatan ini juga berusaha mengurangi kesan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit atau menakutkan.

Konsep serupa kemudian diterapkan dalam Sacred Octagon, sebuah platform edu-games matematika yang memanfaatkan teknologi AI. Telkomsel bersama Indonesia Artificial Intelligence (INA AI) sebelumnya meluncurkan layanan tersebut pada Februari 2026 untuk membantu anak belajar numerasi melalui permainan interaktif.

Sacred Octagon mengubah pembelajaran matematika menjadi rangkaian misi dan tantangan yang dapat diselesaikan secara bertahap. Dengan pendekatan tersebut, anak didorong untuk belajar sambil bermain dan lebih berani mencoba.

AI Menjadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru

Dalam konsep AI for Education, teknologi ditempatkan sebagai pendukung proses pembelajaran. Guru tetap memegang peran utama dalam membimbing siswa, sedangkan teknologi dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Anak-anak yang tumbuh di era digital perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi sekaligus memahami cara berpikir yang diperlukan untuk memanfaatkannya secara tepat.

Dengan demikian, pendidikan digital tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

Guru dan Siswa Mencoba Langsung

Dalam kegiatan di Denpasar tersebut, guru dan siswa turut melihat serta mencoba secara langsung pembelajaran dengan pendekatan GASING dan platform Sacred Octagon.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses awal untuk melihat kebutuhan pembelajaran di lapangan sekaligus mengukur manfaat program secara bertahap.

Keterlibatan guru menjadi bagian penting karena keberhasilan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya bergantung pada platform yang digunakan. Kemampuan pendidik dalam memahami dan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar juga sangat menentukan.

Karena itu, kolaborasi tersebut juga diarahkan pada peningkatan kompetensi pendidik serta evaluasi program secara bertahap.

Penyerahan program Telkomsel dan by.U untuk pembelajaran numerasi
Penyerahan dukungan program Telkomsel dan by.U melalui Sacred Octagon untuk mendukung pembelajaran numerasi digital di Bali.

Akses Pembelajaran Digital Semakin Terbuka

Sebelum diperkenalkan lebih jauh dalam kolaborasi pendidikan di Bali, Telkomsel dan INA AI telah menyediakan Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon yang menggabungkan akses ke platform Sacred Octagon dengan kuota internet Telkomsel.

Layanan tersebut mulai tersedia secara nasional melalui aplikasi MyTelkomsel sejak 13 Februari 2026. Sacred Octagon sendiri menggunakan pendekatan AI dan metode GASING untuk membuat pembelajaran matematika lebih interaktif dan ramah bagi anak.

Kehadiran berbagai pilihan pembelajaran digital memberikan peluang bagi keluarga untuk mendampingi anak belajar tidak hanya melalui buku dan pembelajaran konvensional, tetapi juga melalui media interaktif.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tetap membutuhkan pendampingan orang tua dan guru agar penggunaannya sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.

Menyiapkan SDM Bali di Era Digital

Kolaborasi teknologi dan pendidikan di Bali pada akhirnya tidak hanya ditujukan untuk membuat belajar matematika menjadi lebih menyenangkan. Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan dunia digital.

Kemampuan numerasi, literasi digital, berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting ketika teknologi seperti AI semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Bali, penguatan kemampuan tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk membangun sumber daya manusia yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan produktif.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan sektor teknologi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Teknologi pada akhirnya bukan tujuan pendidikan. Teknologi adalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana alat tersebut membantu anak belajar lebih baik, berpikir lebih kritis, dan tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...