Rabu, 19 Agustus 2026

Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, Saatnya Menjaga Bali untuk Generasi Mendatang

Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali 2026
Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Jumat (14/8/2026).

DENPASAR – Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali pada Jumat (14/8/2026) menjadi momentum untuk kembali melihat bagaimana Bali akan dijaga dan dibangun pada masa mendatang. Mengusung tema “Suci Lascarya, Nusa Wijaya” yang bermakna tulus ikhlas untuk kejayaan Bali, peringatan tahun ini membawa pesan tentang pentingnya pelayanan, pengabdian, gotong royong, serta tanggung jawab menjaga Bali secara berkelanjutan.

Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali berlangsung di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, dan diikuti jajaran pegawai Pemerintah Provinsi Bali. Dalam kesempatan tersebut disampaikan kembali pentingnya membangun Bali dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan.

Tema “Suci Lascarya, Nusa Wijaya” menjadi pesan utama dalam peringatan tahun ini. Maknanya menekankan agar setiap pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan tulus, menjunjung integritas, mengutamakan kepentingan masyarakat, serta dilandasi semangat gotong royong dan tanggung jawab.

Menjaga Bali Bukan Hanya Soal Pembangunan

Bali terus berkembang sebagai daerah tujuan wisata sekaligus tempat tinggal bagi jutaan masyarakat. Perkembangan tersebut membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan yang perlu dijaga bersama.

Persoalan sampah, kemacetan, tekanan terhadap lingkungan, alih fungsi lahan, kebutuhan infrastruktur, hingga keberlanjutan pariwisata menjadi bagian dari tantangan Bali saat ini.

Karena itu, pembangunan Bali ke depan tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Kualitas lingkungan, kebudayaan, kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menentukan masa depan Bali.

Bali Memiliki Arah Pembangunan hingga 100 Tahun

Untuk menjaga keberlanjutan pembangunan, Pemerintah Provinsi Bali telah memiliki Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2023.

Haluan tersebut menjadi pedoman pembangunan Bali dalam jangka panjang dengan memperhatikan karakteristik alam, manusia, kebudayaan, serta nilai-nilai kearifan lokal Bali.

Periode 2025–2030 menjadi tahap awal pelaksanaan haluan pembangunan tersebut. Lima tahun pertama ini dinilai penting karena menjadi fondasi bagi arah pembangunan Bali dalam jangka panjang.

Pembangunan tersebut tetap menggunakan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Konsep tersebut menempatkan keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan Bali.

Enam Bidang yang Menentukan Masa Depan Bali

Pada periode 2025–2030, pembangunan Bali diarahkan pada enam bidang prioritas.

Bidang tersebut mencakup adat, agama, tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal; kesehatan, pendidikan, pemuda, olahraga, jaminan sosial dan ketenagakerjaan; serta transformasi ekonomi melalui Ekonomi Kerthi Bali.

Selain itu, pembangunan juga mencakup infrastruktur darat, laut dan udara serta transportasi; lingkungan, kehutanan dan energi; serta pengembangan Bali sebagai pulau digital dan penguatan keamanan.

Enam bidang tersebut menunjukkan bahwa masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Pendidikan, kesehatan, budaya, lingkungan, ekonomi, hingga kualitas kehidupan masyarakat juga memiliki peran yang sama penting.

UU Provinsi Bali Menjadi Salah Satu Landasan

Arah pembangunan tersebut juga diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali. Undang-undang ini mulai berlaku pada 4 Mei 2023 dan memberikan landasan hukum baru bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Bali.

UU Provinsi Bali juga mengakui karakteristik Bali, termasuk keberadaan desa adat dan subak serta berbagai nilai kearifan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Dengan landasan tersebut, pembangunan Bali diarahkan agar tetap mempertimbangkan karakteristik alam, manusia dan kebudayaan yang menjadi kekuatan utama Pulau Bali.

Pidato pada peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali
Penyampaian pidato pada peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Jumat (14/8/2026).

Pariwisata Perlu Tumbuh Bersama Masyarakat

Pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak penting perekonomian Bali. Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali melalui jalur udara tercatat sekitar 7,05 juta orang.

Besarnya aktivitas pariwisata memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, perdagangan hingga berbagai usaha masyarakat.

Namun, pertumbuhan pariwisata juga perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan, infrastruktur dan tata ruang yang baik. Dengan demikian, manfaat pariwisata dapat terus dirasakan masyarakat tanpa mengurangi kualitas alam dan kebudayaan Bali.

Konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan menjadi semakin penting agar Bali tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga tetap nyaman untuk ditinggali oleh masyarakat.

Menjaga Alam untuk Generasi Berikutnya

Keberlanjutan lingkungan menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan Bali. Berbagai kebijakan telah diarahkan pada pengurangan sampah plastik, pengembangan energi bersih, kendaraan listrik, pertanian organik, serta perlindungan lingkungan.

Bali juga menetapkan target Net Zero Emission pada 2045, lebih cepat dibandingkan target nasional 2060. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Namun, menjaga Bali tentu bukan hanya tugas pemerintah. Lingkungan yang bersih, kebudayaan yang tetap hidup, ruang publik yang nyaman, serta kehidupan masyarakat yang sejahtera membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, generasi muda, hingga wisatawan memiliki peran dalam menjaga Bali sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.

68 Tahun Bali dan Tanggung Jawab Bersama

Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali akhirnya tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia daerah. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa Bali yang dinikmati hari ini merupakan hasil dari perjalanan dan kerja banyak generasi.

Karena itu, pembangunan Bali tidak cukup hanya memikirkan kebutuhan saat ini. Apa yang dibangun, dijaga, dan dilakukan hari ini akan menentukan seperti apa Bali yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat “Suci Lascarya, Nusa Wijaya” menjadi pengingat bahwa menjaga Bali membutuhkan ketulusan, tanggung jawab dan semangat gotong royong.

Bali bukan hanya tempat untuk ditinggali hari ini, tetapi juga warisan yang harus tetap dijaga untuk generasi mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...