Senin, 24 Agustus 2026

Kebakaran Desa Adat Sade, 89 Bangunan Ludes dan 320 Warga Terdampak

Bangunan Desa Adat Sade terdampak kebakaran
Sejumlah bangunan di kawasan Desa Adat Sade terdampak kebakaran. Berdasarkan pendataan yang disampaikan Kepala Desa Rembitan pada 23 Agustus 2026, sebanyak 89 unit bangunan dilaporkan ludes terbakar

LOMBOK TENGAH — Kebakaran melanda kawasan Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Kebakaran menghanguskan puluhan bangunan dan berdampak langsung terhadap kehidupan warga di salah satu kawasan permukiman adat Suku Sasak tersebut.

Berdasarkan pendataan yang disampaikan Kepala Desa Rembitan pada Minggu, 23 Agustus 2026, sebanyak 89 unit bangunan dilaporkan ludes terbakar, sementara sejumlah bangunan lainnya mengalami kebakaran ringan.

Pada hari yang sama, Bupati Lombok Tengah menyampaikan bahwa kebakaran tersebut berdampak terhadap 320 jiwa atau 120 kepala keluarga (KK).

Angka tersebut merupakan data yang disampaikan dalam penanganan awal pascakebakaran. Pendataan dan verifikasi di lapangan masih menjadi bagian penting dalam proses penanganan warga terdampak.

Api Melanda Permukiman Adat

Kebakaran terjadi sekitar 22.15 WITA pada Sabtu malam, berdasarkan informasi BPBD Provinsi NTB. Proses pemadaman melibatkan petugas pemadam kebakaran dan unsur terkait dari sejumlah wilayah.

Bangunan di kawasan Sade sebagian menggunakan material seperti kayu, bambu, bedek dan atap ilalang. Kondisi tersebut membuat api dapat menyebar dengan cepat di antara bangunan yang berdekatan.

Selain bangunan permukiman, sejumlah fasilitas juga dilaporkan terdampak, termasuk masjid, museum, fasilitas umum dan lapak UMKM warga.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut.

Penanganan Warga Mulai Dilakukan

Setelah kebakaran, penanganan tidak berhenti pada proses pemadaman. Pemerintah daerah mulai memusatkan perhatian pada kebutuhan dasar warga yang kehilangan tempat tinggal dan barang-barang mereka.

Kementerian Sosial pada 24 Agustus 2026 menyalurkan bantuan berupa 320 paket sembako, 180 paket family kit, 184 lembar kasur, 233 lembar tenda gulung dan dua unit tenda serbaguna. Selain bantuan kebutuhan dasar, pemerintah juga menyiapkan langkah perbaikan rumah warga yang terdampak.

Pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah daerah juga terus melakukan penanganan di lokasi. BPBD NTB sebelumnya telah mendampingi Wakil Gubernur NTB meninjau langsung kawasan yang terdampak kebakaran.

Sade Bukan Sekadar Permukiman

Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu kawasan yang mempertahankan kehidupan dan arsitektur tradisional masyarakat Sasak. Kawasan ini juga menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya Lombok Tengah.

Karena itu, kebakaran di Sade memiliki dampak yang lebih luas daripada kehilangan tempat tinggal.

Di kawasan tersebut terdapat rumah, tempat usaha, kerajinan, ruang kehidupan masyarakat serta berbagai unsur budaya yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi.

Kebakaran juga membuat pemerintah mulai memikirkan langkah pemulihan kawasan, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan warga, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan Sade sebagai kawasan budaya dan tujuan wisata.

Pemulihan Tidak Hanya Membangun Kembali

Menteri Kebudayaan pada 24 Agustus 2026 menyatakan bahwa perlindungan dan pemulihan Desa Adat Sade menjadi prioritas. Pemerintah juga menekankan pentingnya mengamankan dan mengidentifikasi objek material maupun nonmaterial yang masih dapat diselamatkan.

Langkah pemulihan menjadi penting karena Sade memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Pemerintah Provinsi NTB juga menyiapkan sejumlah destinasi wisata budaya alternatif setelah kebakaran Sade, sementara pembahasan mengenai revitalisasi kawasan mulai muncul dari berbagai pihak.

Namun, proses tersebut tentu membutuhkan pendataan yang matang agar pembangunan kembali tidak sekadar mengganti bangunan yang hilang, tetapi tetap mempertahankan karakter dan nilai budaya kawasan.

Yang Terbakar Bukan Hanya Rumah

Kebakaran di Sade meninggalkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar menghitung jumlah bangunan yang rusak.

Yang terbakar bukan hanya sekadar rumah atau bangunan. Di dalamnya ada karya yang lahir dari sebuah budaya, kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta bagian dari identitas masyarakat yang selama ini membuat Sade dikenal.

Karena itu, pemulihan Sade nantinya bukan hanya tentang membangun kembali apa yang hilang.

Lebih dari itu, ada kehidupan masyarakat yang perlu dipulihkan dan budaya yang perlu tetap dijaga agar dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sade mungkin akan kembali dibangun. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa ketika bangunan-bangunan itu kembali berdiri, nilai, kehidupan dan budaya yang membuat Sade berarti tidak ikut hilang bersama puing-puing kebakaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...