Pertumbuhan pariwisata dan kebutuhan listrik yang terus meningkat mendorong Bali menyiapkan sumber energi alternatif yang lebih bersih dan berkelanjutan
DENPASAR — Pertumbuhan pariwisata Bali tidak hanya membutuhkan kesiapan destinasi, akomodasi, transportasi, dan infrastruktur, tetapi juga pasokan energi yang memadai. Seiring meningkatnya kebutuhan listrik, Bali mulai mendorong pergeseran penggunaan energi menuju sumber yang lebih bersih sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pariwisata sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Arah tersebut menjadi salah satu perhatian Pemerintah Provinsi Bali dalam menyiapkan konsep kawasan rendah emisi. Lima kawasan pariwisata, yakni Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Ubud di Kabupaten Gianyar, Sanur di Kota Denpasar, serta Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, diarahkan untuk dipersiapkan sebagai kawasan rendah emisi.
Gagasan tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan Kawasan Rendah Emisi di Denpasar, Rabu (5/8/2026). Namun, rencana tersebut masih berada pada tahap persiapan dan perumusan. Pemerintah kabupaten/kota bersama instansi terkait masih diminta membahas batas kawasan, bentuk penerapan, serta langkah yang diperlukan sebelum konsep tersebut dapat dijalankan.
Kebutuhan energi terus meningkat
Kebutuhan energi menjadi salah satu alasan penting mengapa Bali perlu mulai memikirkan sumber energi alternatif. Dalam arahannya, Gubernur Bali menyebut kebutuhan daya listrik Bali pada tahun ini dapat mencapai lebih dari 1.200 megawatt (MW), sementara kemampuan yang tersedia berada di kisaran lebih dari 1.400 MW.
Beban listrik tersebut diperkirakan kembali meningkat pada 2027 hingga lebih dari 1.400 MW. Kondisi itu menunjukkan bahwa kebutuhan energi Bali perlu dipersiapkan sejak sekarang, terlebih aktivitas ekonomi dan pariwisata terus berkembang.
Ketahanan energi menjadi penting bukan hanya untuk menjaga keberlangsungan aktivitas pariwisata, tetapi juga untuk memastikan kebutuhan listrik masyarakat dan berbagai sektor ekonomi lainnya tetap dapat terpenuhi.
Dalam konteks tersebut, pergeseran menuju sumber energi yang lebih bersih dapat menjadi salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Pemanfaatan energi alternatif tidak berarti menggantikan seluruh sumber energi yang sudah tersedia, tetapi dapat membantu menambah pilihan sumber energi dan mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
PLTS menjadi salah satu pilihan
Salah satu sumber energi bersih yang didorong adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Pemanfaatannya diarahkan untuk dapat diterapkan pada berbagai bangunan di kawasan rendah emisi, termasuk hotel, vila, restoran, perkantoran, dan rumah.
Pemanfaatan PLTS menjadi relevan bagi Bali karena kebutuhan energi tidak hanya berasal dari fasilitas pariwisata berskala besar. Aktivitas masyarakat, usaha, perkantoran, perdagangan, hingga akomodasi wisata sama-sama membutuhkan pasokan listrik.
Semakin banyak sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan, semakin terbuka pula pilihan bagi Bali dalam menghadapi pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang.
Di sisi lain, berkembangnya pemanfaatan energi surya juga berpotensi mendorong terbentuknya ekosistem pendukung. Jika penggunaan PLTS semakin luas, kebutuhan terhadap tenaga teknis, jasa pemasangan dan pemeliharaan, hingga ketersediaan perangkat pendukung dapat ikut berkembang.
Namun, perkembangan tersebut tentu membutuhkan kesiapan dari sisi perencanaan, regulasi, teknologi, biaya, serta sumber daya manusia. Karena itu, pemanfaatan energi bersih perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing kawasan.
Tidak hanya soal listrik
Konsep kawasan rendah emisi yang sedang disiapkan Bali juga tidak hanya berfokus pada penggunaan energi surya.
Ada lima pendekatan yang diarahkan untuk berjalan bersama, yaitu Green Energy melalui pemanfaatan energi bersih; Green Mobility melalui penggunaan kendaraan listrik; Green Ecosystem melalui peningkatan tutupan lahan dan pelestarian hutan; Green Tourism melalui pengurangan plastik sekali pakai; serta Green Community dengan melibatkan masyarakat dan tetap mengedepankan kearifan lokal.
Dengan pendekatan tersebut, rendah emisi tidak hanya dipahami sebagai persoalan sumber listrik, tetapi sebagai upaya yang mencakup energi, transportasi, lingkungan, aktivitas pariwisata, dan masyarakat.
Bagi Bali, langkah tersebut menjadi penting karena lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daya tarik pariwisata. Pertumbuhan pariwisata perlu berjalan seiring dengan kemampuan daerah menjaga sumber daya yang menjadi penopangnya.
Menyiapkan energi untuk Bali ke depan
Dorongan terhadap energi bersih pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang bagaimana sektor pariwisata mendapatkan pasokan listrik. Lebih jauh, hal tersebut berkaitan dengan bagaimana Bali mempersiapkan kebutuhan energinya ketika aktivitas ekonomi dan jumlah kebutuhan listrik terus bertambah.
Pemanfaatan sumber energi alternatif seperti PLTS dapat menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Jika penerapannya berkembang secara bertahap dan didukung ekosistem yang memadai, manfaatnya berpotensi tidak hanya dirasakan oleh sektor pariwisata, tetapi juga membuka pilihan energi yang lebih beragam bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Untuk saat ini, lima kawasan rendah emisi tersebut masih berada dalam tahap persiapan dan perumusan. Pemerintah Provinsi Bali melalui BRIDA bersama kelompok ahli dan dinas terkait diminta melanjutkan pembahasan mengenai kawasan, ketentuan, serta bentuk penerapannya.
Dengan demikian, arah menuju pariwisata rendah emisi di Bali masih merupakan proses yang perlu dipersiapkan secara matang. Di tengah pertumbuhan kebutuhan energi, upaya memperluas penggunaan sumber energi bersih menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga keberlanjutan pariwisata sekaligus memperkuat ketahanan energi Bali ke depan.
Baca juga : Bali Dikunjungi 16,3 Juta Wisatawan pada 2025. Berkah Ekonomi atau Alarm bagi Infrastruktur?
Infrastruktur dan Lingkungan Jadi Prioritas untuk Menjaga Pariwisata Bali


Tidak ada komentar:
Posting Komentar