Selasa, 08 September 2026

Mengapa Sejumlah Gunung Api Indonesia Erupsi Bersamaan? Ada Kaitannya dengan Gempa Tektonik?

Peta sebaran gunung api Indonesia pada MAGMA Indonesia
Peta MAGMA Indonesia menunjukkan sebaran gunung api di Indonesia dan tingkat aktivitasnya pada 8 September 2026.

JAKARTA — Sejumlah gunung api di Indonesia kembali menunjukkan aktivitas erupsi dalam waktu yang berdekatan. Fenomena ini sempat menimbulkan pertanyaan: apakah erupsi Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Gunung Ibu dan beberapa gunung api lainnya saling berkaitan? Atau apakah ada gempa tektonik yang menjadi pemicunya?

Pertanyaan tersebut menarik karena gunung api dan gempa bumi memang sama-sama berkaitan dengan dinamika kerak bumi. Namun, keduanya tidak otomatis memiliki hubungan sebab-akibat.

Data pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan bahwa pada 31 Agustus 2026 sedikitnya enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Keenamnya adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Sinabung di Sumatera Utara.

PVMBG menegaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara independen, bukan karena gunung-gunung tersebut saling memicu. Indonesia memiliki banyak gunung api aktif yang berada pada lingkungan tektonik sangat kompleks, sehingga kemunculan erupsi pada waktu yang sama bukan sesuatu yang secara otomatis menunjukkan adanya satu pemicu yang sama.

Indonesia memang berada di lingkungan yang sangat aktif

Indonesia berada pada kawasan pertemuan lempeng tektonik yang menghasilkan aktivitas gempa sekaligus membentuk banyak gunung api.

Dalam kondisi seperti ini, magma terus terbentuk dan bergerak melalui sistem di bawah permukaan. Tetapi setiap gunung api memiliki sistem magma, saluran, tekanan, kandungan gas, serta kondisi batuan yang berbeda.

Karena itu, ketika beberapa gunung api meletus dalam hari atau minggu yang sama, kesamaan waktunya belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semuanya mempunyai satu penyebab.

Justru yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi di masing-masing gunung sebelum erupsi.

Pada kasus Sinabung, misalnya, Badan Geologi mencatat adanya rentetan 85 gempa vulkanik sebelum erupsi pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB. Gunung tersebut kemudian mengalami erupsi dengan kolom sekitar 3.500 meter di atas puncak. Data seperti ini menunjukkan adanya proses yang berlangsung di dalam sistem vulkaniknya sendiri.

Gunung api punya “mesin” sendiri di bawah permukaan

Erupsi pada dasarnya terjadi ketika magma dan gas dari dalam bumi bergerak naik dan tekanan di dalam sistem vulkanik cukup besar untuk mendorong material menuju permukaan.

Pergerakan tersebut dapat menghasilkan berbagai jenis gempa vulkanik. Karena itu, gempa yang terekam di sekitar gunung api tidak selalu berarti gempa tektonik sedang memicu gunung tersebut.

USGS menjelaskan bahwa gempa vulkanik dapat terjadi akibat pergerakan magma dan gas, perubahan tekanan, maupun rekahan batuan. Jenis gempa dan pola kegempaannya menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk memahami pergerakan material di dalam gunung api.

Inilah sebabnya pemantauan gunung api tidak hanya melihat apakah terjadi gempa atau tidak. Para ahli juga memperhatikan jenis gempa, kedalaman, jumlah kejadian, deformasi tubuh gunung, perubahan gas, serta perubahan visual.

Dengan kata lain, “ada gempa” belum tentu berarti “gempa menyebabkan erupsi”.

Lalu, apakah gempa tektonik bisa memicu erupsi?

Jawabannya adalah bisa, tetapi dalam kondisi tertentu.

Penelitian dan pemantauan kegunungapian menunjukkan bahwa gempa tektonik yang cukup besar dapat mengubah tekanan dan tegangan pada sistem gunung api. Gelombang seismik juga dapat memengaruhi sistem magma.

Namun, gunung api tersebut umumnya harus sudah berada dalam kondisi yang sangat dekat dengan fase erupsi. USGS menyebut sedikit kasus gempa besar—terutama gempa lokal yang berdekatan dengan gunung api—yang diduga berkaitan dengan erupsi berikutnya. Syarat pentingnya adalah adanya magma yang sudah siap mengalami erupsi dan tekanan yang cukup tinggi di dalam sistem tersebut.

Jadi, gempa tektonik lebih tepat dipahami sebagai pemicu tambahan, bukan “sumber magma” yang membuat gunung tiba-tiba meletus.

Ibaratnya, sebuah gunung api yang sudah berada dalam kondisi sangat tertekan dapat memperoleh “dorongan terakhir” dari perubahan tekanan akibat gempa. Tetapi jika sistem magmanya belum siap, gempa yang sama belum tentu menghasilkan erupsi.

Rangkaian gempa September juga tidak otomatis menjelaskan erupsi

Pada awal September 2026 memang terjadi beberapa gempa tektonik yang cukup signifikan di Indonesia.

BMKG mencatat gempa M5,4 di selatan Jawa pada 4 September 2026 dengan mekanisme yang berkaitan dengan aktivitas subduksi Indo-Australia di bawah Eurasia. Pada 1 September, gempa M5,5 juga terjadi di wilayah Laut Halmahera Tengah akibat aktivitas sesar aktif.

Menariknya, episode erupsi menerus Anak Krakatau dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, beberapa jam setelah gempa di selatan Jawa.

Tetapi hubungan waktu tersebut belum cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

Mengapa?

Karena Anak Krakatau sudah menunjukkan aktivitas erupsi sejak Juli 2026. Badan Geologi mencatat bahwa sejak 2 Juli 2026 gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga dan terus mengalami rangkaian erupsi Strombolian sebelum episode erupsi menerus pada 4 September.

Dengan demikian, jauh lebih hati-hati jika dikatakan bahwa gempa dan erupsi tersebut terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, bukan bahwa gempa tersebut telah terbukti menyebabkan erupsi Anak Krakatau.

Aktivitas Anak Krakatau Bukan Peristiwa yang Muncul Tiba-Tiba

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir merupakan bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik yang telah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya.

Badan Geologi mencatat, setelah mengalami jeda erupsi sejak Desember 2023, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, seri erupsi tipe Strombolian terus berlangsung dan status aktivitas gunung api dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Aktivitas tersebut kemudian berlanjut hingga awal September. Pada 4 September pukul 23.07 WIB, Anak Krakatau memasuki episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, sebelum berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas kembali menunjukkan erupsi Strombolian.

Pemantauan Badan Geologi pada 6–7 September masih merekam aktivitas kegempaan yang cukup tinggi, antara lain 3 gempa erupsi, 9 gempa hembusan, 93 gempa low frequency, 98 gempa hybrid/fase banyak, 4 tremor menerus, dan 1 gempa vulkanik dangkal.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Anak Krakatau perlu dilihat sebagai sebuah episode vulkanik yang berkembang dari waktu ke waktu, bukan hanya berdasarkan satu kejadian erupsi yang berlangsung dalam hitungan jam. Karena itu, pemantauan terhadap perubahan aktivitas menjadi penting untuk memahami perkembangan kondisi gunung api dan potensi bahayanya.

Ilustrasi Anak Gunung Krakatau dengan aktivitas vulkanik
Ilustrasi Anak Gunung Krakatau dan aktivitas vulkaniknya. Ilustrasi digunakan untuk membantu menggambarkan aktivitas gunung api.

Mengapa banyak gunung api bisa aktif hampir bersamaan?

Ada bagian penting yang sering terlewat ketika fenomena seperti ini diberitakan.

Indonesia memiliki banyak gunung api aktif yang berada dalam satu kawasan tektonik yang sangat dinamis. Artinya, secara statistik memang memungkinkan beberapa gunung api mengalami peningkatan aktivitas pada periode yang berdekatan.

Namun masing-masing gunung tetap mempunyai sistem magma yang berbeda.

Gunung Ibu, misalnya, memang telah menunjukkan aktivitas erupsi berkelanjutan. Global Volcanism Program Smithsonian Institution mencatat aktivitas erupsi harian Gunung Ibu pada akhir Agustus hingga awal September 2026.

Hal serupa terlihat pada Ili Lewotolok. Aktivitas erupsi gunung api di Lembata telah berlangsung sebelum awal September dan terus berlanjut. Pada 7 September, gunung tersebut kembali mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak.

Artinya, beberapa gunung yang tampak “meletus bersamaan” sebenarnya sudah berada dalam fase aktif masing-masing.

Kesamaan waktu menjadi lebih mudah terjadi karena Indonesia memang memiliki banyak sistem vulkanik yang aktif secara bersamaan.

Yang justru penting: membedakan gempa tektonik dan gempa vulkanik

Bagi masyarakat, istilah “gempa” mudah menimbulkan kesan bahwa semuanya merupakan satu fenomena.

Padahal dalam pemantauan gunung api, jenis gempa sangat penting.

Gempa tektonik terjadi akibat pelepasan energi dari pergerakan atau deformasi batuan dan sesar di kerak bumi.

Sementara itu, gempa vulkanik dapat berkaitan dengan rekahan batuan, pergerakan magma, atau perpindahan fluida dan gas di dalam sistem gunung api.

Keduanya dapat terjadi di kawasan yang sama, bahkan dapat muncul dalam periode yang berdekatan. Tetapi mekanisme dan maknanya berbeda.

Penelitian USGS terhadap aktivitas kegempaan gunung api juga menunjukkan bahwa gempa volcano-tectonic dapat menjadi salah satu tanda awal proses intrusi magma pada sejumlah gunung api. Namun untuk menentukan penyebabnya, data kegempaan harus dibaca bersama informasi geologi, deformasi, hidrologi dan geokimia.

Jadi, apakah semua erupsi ini berkaitan dengan gempa?

Belum ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan demikian.

Ada hubungan antara proses tektonik dan vulkanisme dalam skala besar karena keduanya merupakan bagian dari dinamika bumi. Gempa besar tertentu juga memang dapat memengaruhi sistem gunung api yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Tetapi untuk kasus rangkaian erupsi gunung api Indonesia pada akhir Agustus hingga awal September 2026, keterangan PVMBG justru menyebut aktivitas enam gunung api tersebut sebagai dinamika vulkanik independen.

Bahkan secara global, hubungan gempa dan erupsi juga tidak sederhana. Analisis USGS terhadap gempa M4 ke atas di sekitar gunung api menemukan bahwa hanya sebagian kecil erupsi yang didahului gempa seperti itu, sementara sebagian besar gempa tersebut tidak diikuti erupsi.

Karena itu, melihat beberapa gunung meletus bersamaan lalu langsung menghubungkannya dengan satu gempa tektonik dapat menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.

Bukan sekadar “banyak gunung meletus”

Fenomena ini sebenarnya memberi pelajaran penting tentang cara membaca bencana geologi.

Indonesia bukan hanya negara yang memiliki banyak gunung api. Indonesia juga berada di lingkungan tektonik yang membuat proses magma, gempa bumi, deformasi kerak, dan pergerakan fluida bawah permukaan berlangsung secara aktif.

Karena itu, beberapa gunung api dapat mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan tanpa harus mempunyai satu “pipa magma” yang saling terhubung.

Yang lebih penting daripada mencari satu penyebab tunggal adalah membaca pola masing-masing gunung: bagaimana kegempaannya berubah, apakah tubuh gunung mengalami penggelembungan, bagaimana gas vulkaniknya berubah, dan apakah ada perubahan lain yang menunjukkan magma sedang bergerak.

Di situlah ilmu vulkanologi bekerja—bukan hanya menjawab “gunung mana yang meletus?”, tetapi juga berusaha memahami “apa yang sedang terjadi jauh di bawah permukaan sebelum gunung itu meletus?”

Dan bagi masyarakat, pemahaman tersebut penting. Sebab tidak setiap gempa berarti gunung akan meletus, dan tidak setiap beberapa gunung yang meletus bersamaan berarti ada satu bencana besar yang sedang bergerak menuju kita.

Yang pasti, aktivitas gunung api tetap harus dipantau berdasarkan data resmi dan rekomendasi PVMBG, karena setiap gunung memiliki karakter dan tingkat bahaya yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Bali Menjadi Bali? Jejak Leluhur, Hindu-Buddha, Kerajaan, Jawa, dan Tiongkok yang Membentuk Pulau Dewata

Jejak sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bali melalui perjalanan panjang lintas zaman. Ketika mendengar kata Bali , yang terbayang biasan...