JEMBRANA — Karya Agung di Pura Desa lan Pura Puseh Adat Adnyasari, Desa Adat Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, menjadi momentum masyarakat untuk menjaga tradisi keagamaan sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong.
Karya Agung yang meliputi Memungkah, Ngenteg Linggih, Mapududusan Agung, Menawa Ratna, Nubung Pedagingan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini, serta Tawur Agung Labuh Gentuh tersebut berlangsung dengan melibatkan krama adat dan berbagai unsur masyarakat.
Puncak kegiatan berlangsung pada Kamis malam, 13 Agustus 2026. Rangkaian Karya Agung telah dipersiapkan sejak 31 Mei 2026 dan menjadi salah satu kegiatan adat yang memiliki makna penting bagi masyarakat Desa Adat Ekasari.
Manggala Prawartaka Karya, Kadek Darta, mengatakan pelaksanaan Karya Agung dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Pura Desa lan Pura Puseh Adat Adnyasari sendiri diempon oleh lima banjar adat dengan jumlah sekitar 600 kepala keluarga (KK).
Gotong royong menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Setiap krama turut memberikan dukungan sesuai kemampuan, termasuk melalui kontribusi dana sebesar Rp1,5 juta. Dukungan juga datang dari warga Desa Adat Ekasari yang kini tinggal atau bekerja di luar daerah.
Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan adat tidak hanya menjadi tanggung jawab pengurus desa adat, tetapi melibatkan masyarakat secara luas.
Menjaga Seni dan Budaya Bali
Karya Agung di Desa Adat Ekasari juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan seni dan budaya Bali.
Sejumlah kelompok seni ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan, di antaranya Sekaa Baleganjur, Sekaa Tari Rejang Dewa, Sekaa Gong Kebyar Sadnyasari, dan Sekaa Gong Kebyar Adnyasari.
Keterlibatan kelompok-kelompok seni tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pelestarian adat dan budaya juga menjadi salah satu pesan yang disampaikan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri puncak Karya Agung dan penandatanganan prasasti kegiatan.
Ia mengajak masyarakat Desa Adat Ekasari tetap menjaga kebersamaan dalam menjalankan kewajiban adat dan agama, sekaligus mempertahankan seni, tradisi, serta kearifan lokal Bali.
Menurutnya, kemajuan desa adat tetap perlu berjalan bersama dengan pelestarian akar budaya. Dengan demikian, perkembangan masyarakat tidak membuat nilai-nilai adat dan budaya semakin tergerus.
Taman Gumi Banten untuk Perkuat Ekonomi Lokal
Selain aspek adat dan budaya, pelaksanaan kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui pelestarian Taman Gumi Banten.
Taman Gumi Banten merupakan gagasan untuk menjaga ketersediaan berbagai tanaman yang dibutuhkan sebagai bahan upakara adat dan agama.
Pengembangannya di masing-masing wilayah diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan bahan upakara dari lingkungan sendiri, sehingga tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Upaya tersebut sekaligus dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan lahan dan potensi pertanian lokal.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri rangkaian Karya Agung di Desa Adat Ekasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Kamis (13/8/2026).
Tradisi yang Dijaga Bersama
Pelaksanaan Karya Agung di Desa Adat Ekasari memperlihatkan bagaimana tradisi tetap dapat dijaga melalui keterlibatan masyarakat secara bersama-sama.
Persiapan yang dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya, dukungan krama, keterlibatan kelompok seni, hingga perhatian terhadap ketersediaan bahan upakara menunjukkan bahwa kegiatan adat memiliki dimensi yang lebih luas daripada pelaksanaan ritual semata.
Karya Agung menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial, menjaga seni dan budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk memanfaatkan potensi lingkungan dan ekonomi lokal.
Di tengah perubahan zaman, kebersamaan seperti ini menjadi salah satu cara masyarakat Desa Adat Ekasari mempertahankan tradisi sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar